Ketika sebuah program memiliki batas waktu, tantangan berikutnya adalah memastikan praktik baik yang telah dibangun tidak ikut berhenti ketika program berakhir. Bagi Universitas Pasifik (Unipas), salah satu peluang untuk menjaga keberlanjutan praktik yang dikembangkan oleh Program KREASI Morotai ada pada peran perguruan tinggi dalam mempersiapkan calon guru.
Gagasan tersebut menjadi semakin relevan bagi Fahmi, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unipas, setelah melihat masih adanya kebutuhan penguatan pada mahasiswa calon guru. Dalam evaluasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) pada 2025, Fahmi bersama Ira, salah satu dosen FKIP Unipas, menemukan bahwa mahasiswa masih mengalami kekurangan dalam menyiapkan perangkat pembelajaran, termasuk ketika menyusun modul ajar.
Evaluasi PPL juga digunakan untuk melihat kemampuan mahasiswa dalam proses pembelajaran, penggunaan perangkat teknologi, penguasaan dan manajemen kelas, serta kesiapan menghadapi situasi mengajar di dunia nyata. Dari evaluasi tersebut, Fahmi melihat bahwa metode pembelajaran menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat.
“Ketika kita turun membuat modul ajar, ternyata masih kurang. Dari situ kami melihat, masalahnya di mana? Apakah dalam aspek pembelajaran, IT, perangkat pembelajaran, penguasaan kelas, atau manajemen kelas? Ternyata pada aspek metode juga perlu diperkuat,” ujar Fahmi.
Di sisi lain, Fahmi melihat praktik yang dikembangkan melalui Program KREASI dapat menjadi pembelajaran bagi mahasiswa. Setelah mengikuti dan mengamati berbagai kegiatan bersama KREASI, ia melihat pendekatan seperti Klub Bermain Literasi (KBL) dan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) memiliki relevansi untuk dibawa ke lingkungan perguruan tinggi.
Menurut Fahmi, KBL tidak hanya dapat diterapkan sebagai pendekatan penguatan literasi dan numerasi di sekolah, tetapi juga dapat menjadi contoh strategi pembelajaran bagi mahasiswa calon guru. Pendekatan tersebut, misalnya, dapat dikenalkan dalam kegiatan pembelajaran mikro maupun praktik pembelajaran.
Peluang itu juga didukung oleh adanya Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Unipas dan Stimulant Institute, mitra pelaksana lokal Save the Children dalam Program KREASI. Bagi Fahmi, kerja sama tersebut membuka ruang untuk berbagi pengetahuan dan praktik yang telah dikembangkan melalui KREASI kepada lingkungan kampus.
“Karena tujuan Unipas adalah mendidik mahasiswa calon guru, kenapa praktik yang sudah didapatkan dari KREASI tidak diterapkan juga di perguruan tinggi?” kata Fahmi.
Salah satu proses berbagi tersebut berlangsung melalui Oniy, guru dari salah satu sekolah dampingan KREASI yang juga merupakan alumni Unipas. Oniy juga merupakan Fasilitator Daerah KBL KREASI. Fahmi melihat perubahan motivasi dan keterlibatan Oniy setelah mengikuti kegiatan KREASI. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu alasan bagi Fahmi untuk melihat praktik KREASI sebagai sesuatu yang dapat dibagikan kembali kepada mahasiswa.
Ira kemudian menghubungi Oniy untuk berbagi praktik yang diperolehnya selama mengikuti kegiatan KREASI. Salah satu yang dibagikan adalah pendekatan KBL, termasuk strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk mendukung anak yang masih mengalami kesulitan dalam literasi. Bagi Fahmi, pengalaman praktis dari guru seperti ini dapat melengkapi pembelajaran mahasiswa calon guru.
Namun, membawa praktik dari sebuah program yang baru hadir sejak 2025 ke lingkungan perguruan tinggi membutuhkan dukungan lebih luas. Bagi Fahmi, proses tersebut tidak hanya bergantung pada satu orang atau satu fakultas.
Di tingkat universitas, dukungan datang dari pimpinan, termasuk Rektor, Wakil Rektor I sebagai Fasilitator Daerah Kepala SD/MI dan Wakil Rektor III sebagai Pelatih Utama Daerah Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang telah dilatih KREASI. Di FKIP sendiri, peran Dekan menjadi penting karena pengelolaan pembelajaran berada di tingkat fakultas. Para dosen yang mengikuti kegiatan KREASI juga turut memberikan masukan agar praktik yang diperoleh dapat diterapkan di lingkungan FKIP.
Keterlibatan tersebut membuat pengetahuan yang diperoleh dari KREASI tidak hanya berhenti pada peserta kegiatan. Fahmi menyebut sejumlah dosen tertarik mengikuti kegiatan bersama KREASI untuk menambah pengalaman dan pengetahuan, meskipun pelaksanaannya tetap perlu menyesuaikan dengan tugas mereka di kampus.
Bagi Fahmi, proses berbagi ini juga memberikan perspektif baru bagi kampus. Sebelum bekerja bersama KREASI, kegiatan internal kampus sudah berjalan, tetapi kesempatan untuk berbagi metodologi bersama kepala sekolah dan praktisi pendidikan belum banyak dilakukan. Melalui kegiatan bersama KREASI, dosen memperoleh tambahan pengetahuan mengenai praktik pembelajaran yang diterapkan di sekolah.
Fahmi juga melihat adanya penguatan pada guru setelah mengikuti kegiatan bersama KREASI. Menurutnya, sebelumnya proses pembelajaran di sekolah masih berjalan apa adanya dan guru masih membutuhkan bimbingan. Setelah mendapatkan penguatan, guru dinilai menjadi lebih termotivasi dan memiliki tambahan pengetahuan dalam proses pembelajaran.
Pengalaman tersebut kemudian membawa Fahmi pada pertanyaan yang lebih jauh, bagaimana memastikan praktik-praktik tersebut tetap tersedia ketika program berakhir?
“Membangun itu mudah, tetapi mempertahankan yang sudah dibangun itu sulit. Program KREASI juga memiliki keterbatasan waktu. Karena itu, setelah program selesai, yang penting adalah bagaimana kami mempertahankan praktik-praktik baik yang sudah didapatkan,” ujar Fahmi.
Salah satu langkah yang menurutnya penting adalah melibatkan lebih banyak unsur di lingkungan universitas. Pimpinan dan dosen yang mengikuti kegiatan bersama KREASI tidak hanya memperoleh pengalaman secara individual, tetapi juga dapat membawa pengetahuan tersebut kembali ke lingkungan kampus.
Bagi Fahmi, keberlanjutan juga tidak cukup hanya dilihat dari keberadaan sumber daya manusia yang saat ini terlibat. Ada kelompok lain yang dapat menjadi bagian dari keberlanjutan tersebut, mahasiswa calon guru.
Di sinilah peran Unipas dan KREASI bertemu. KREASI membekali guru yang sudah berada di sekolah dengan pengetahuan dan praktik pembelajaran, sementara Unipas memiliki peran untuk mempersiapkan calon guru yang akan memasuki dunia pendidikan.
“Praktik dan metode dari KREASI sudah ada untuk guru, kemudian kami bisa mengambil praktik baik tersebut untuk memberikan pembelajaran kepada calon guru,” kata Fahmi.
Dengan membawa praktik yang relevan dari sekolah ke ruang pendidikan calon guru, kerja sama KREASI dan Unipas membuka jalur agar pembelajaran yang dibangun selama program tidak berhenti pada guru yang telah didampingi. Praktik tersebut dapat terus dikenalkan, dipelajari, dan dikembangkan oleh calon guru yang nantinya akan masuk ke sekolah.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pulau Morotai dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Stimulant Institute, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Ayutama Putri Jordy | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Ayutama Putri Jordy/KREASI/Stimulant Institute/Save the Children