Skip to content Skip to footer

Sambut Baik Program KREASI, Pj. Sekda Nias Selatan Dukung Sekolah Aman dan Nyaman  

KREASI Nias Selatan menggelar audiensi bersama Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Nias Selatan, Amsarno S. Sarumaha pada 11 Agustus 2026. 

Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendukung implementasi Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN), sekaligus mendorong pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) BSAN di tingkat Kabupaten Nias Selatan. 

Audiensi tersebut dihadiri oleh Koordinator Perlindungan Anak KREASI, Zulfikar, bersama para fasilitator daerah (FASDA) dan perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yaitu  Lembaga Obor Berkat (LOB). Sementara dari jajaran Pemerintah Kabupaten Nias Selatan, hadir Kepala Dinas Pendidikan Nurhayati Telaumbanua, Kepala Bidang PPM Bapperida  Albert Dakhi, serta perwakilan kepala sekolah. 

Dalam kesempatan tersebut, Koordinator Perlindungan Anak KREASI, Zulfikar, menyampaikan bahwa pelaksanaan BSAN membutuhkan wadah koordinasi yang solid dan keterlibatan lintas instansi. 

“Beda dengan TPPK (Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan) yang sifatnya menyelesaikan kasus di internal sekolah, Pokja BSAN ini bekerja dengan merujuk penanganan kasus ke lembaga yang memiliki sumber daya sesuai kewenangannya. Karena itu, peran dan kolaborasi lintas sektor sangat krusial,” jelas Zulfikar. 

Zulfikar juga menambahkan bahwa di tingkat sekolah, KREASI telah mendampingi penyusunan standar minimal implementasi BSAN, seperti SOP penanganan kasus, kode etik, dan alur pelaporan. Ke depan, praktik baik di 30 sekolah mitra KREASI ini diharapkan dapat direplikasikan ke seluruh sekolah di Kabupaten Nias Selatan. 

Menanggapi pemaparan tersebut, Pj. Sekda Nias Selatan, Amsarno Sarumaha, menyampaikan bahwa pihak pemerintah daerah sangat menerima baik dan mendukung penuh program BSAN ini. Ia menilai langkah ini sangat relevan dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan anak-anak di lingkungan pendidikan. 

“Kami sangat menyambut baik dan menerima dengan terbuka inisiatif implementasi BSAN ini. Namun, karena sasaran BSAN adalah seluruh anak sekolah, tentu membutuhkan waktu dan proses. Praktik baik dari sekolah-sekolah mitra KREASI yang sudah berjalan harus kita jadikan pijakan untuk keberlanjutan dan perluasan ke sekolah-sekolah lainnya di Nias Selatan,” ujar Amsarno. 

Amsarno juga menegaskan komitmennya untuk menindaklanjuti kebutuhan kelembagaan perlindungan anak di daerah, termasuk koordinasi terkait pengisian struktur UPTD PPA kepada Bupati Nias Selatan. Selain itu, ia menyarankan pembentukan media komunikasi khusus seperti grup WhatsApp agar koordinasi antar-anggota Pokja dapat berjalan cepat dan responsif. 

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Nias Selatan, Nurhayati Telaumbanua, menekankan pentingnya penyamarataan alur pelaporan dan SOP agar seluruh sekolah memiliki panduan baku. Ia menegaskan bahwa penyelesaian kasus kekerasan pada siswa tidak boleh hanya berhenti pada tindakan administratif, tetapi harus memuat proses pembinaan karakter dan perubahan perilaku. 

Audiensi diakhiri dengan beberapa poin rencana tindak lanjut (RTL), antara lain penyusunan draf SOP dan struktur Pokja BSAN, sosialisasi tugas dan fungsi anggota Pokja, serta rencana pelaksanaan pelatihan lanjutan mengenai BSAN bagi sekolah-sekolah di Nias Selatan. 

_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Nias Selatan dikelola dan diimplementasi Save the Children, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Nias Selatan dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Penulis: Christian Yosua Halawa | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Michael Huda/KREASI/Save the Children