Setiap hari, murid kelas 1, 2, dan 3 di sekolah yang dipimpin Nuryati memiliki waktu 15 menit untuk membaca. Namun, kegiatan tersebut belum berjalan seperti yang diharapkan. Anak-anak lebih sering diminta membaca sendiri, sementara guru belum banyak terlibat dalam mendampingi mereka.
“Anak-anak biasanya hanya membaca sendiri. Jadi mereka cenderung bermalas-malasan,” cerita Nuryati, kepala sekolah dampingan Program KREASI di Morotai, Maluku Utara.
Nuryati telah menjadi kepala sekolah sejak 2006. Setiap enam bulan, ia melakukan supervisi akademik untuk memeriksa perangkat pembelajaran sekaligus mengamati proses belajar di kelas. Dari pengalamannya, perhatian guru sebelumnya lebih banyak tertuju pada kelengkapan perangkat pembelajaran dan penyampaian materi sesuai rencana yang telah disusun.
“Dulu yang penting materi sudah disampaikan. Apakah anak memahami atau tidak, terkadang belum terlalu diperhatikan,” ujarnya.
Setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan KREASI, Nuryati mulai menggunakan lembar amatan supervisi untuk melihat lebih dekat bagaimana guru mengajar. Ia menemukan beberapa hal yang perlu diperbaiki, seperti guru yang belum melakukan apersepsi, belum optimal dalam mengelola kelas, atau belum membuat kesepakatan bersama murid sebelum pembelajaran dimulai.
Sebelumnya, temuan-temuan tersebut lebih banyak dibahas di sekolah masing-masing. Pengawas juga tidak selalu dapat berkunjung langsung ke sekolah. Karena itu, Nuryati merasa terbantu dengan adanya Pembelajaran Sejawat KREASI, tempat para kepala sekolah dalam satu gugus dapat bertemu dan membicarakan persoalan yang mereka hadapi.
“Di Pembelajaran Sejawat, kami tidak hanya membahas dokumen-dokumen tersebut, tetapi juga bagaimana guru menerapkannya dalam proses pembelajaran, seperti bagaimana menguasai kelas dan menyampaikan materi kepada siswa,” katanya.
Dari pertemuan tersebut, Nuryati mendapat berbagai ide yang kemudian ia bagikan kepada guru-guru di sekolahnya. Salah satunya adalah memanfaatkan media pembelajaran yang sebenarnya sudah tersedia, seperti proyektor dan televisi, tetapi belum banyak digunakan.
Ia juga mengenalkan kartu suku kata yang dibuat dari kertas dan karton. Kartu-kartu tersebut dapat diacak, lalu murid diminta menyusunnya menjadi kata. Kegiatan sederhana ini memberi kesempatan kepada anak untuk belajar membaca sambil bermain.
Hal lain yang menjadi perhatian Nuryati adalah refleksi di akhir pembelajaran. Ia masih menemukan guru yang belum terbiasa memeriksa kembali apakah murid benar-benar memahami materi yang diajarkan.
“Di Pembelajaran Sejawat, kami juga membahas bahwa masih ada guru yang belum melakukan refleksi di akhir pembelajaran. Padahal, refleksi penting untuk melihat sejauh mana anak memahami materi dan menjadi bagian dari penilaian pembelajaran,” jelasnya.

Menurut Nuryati, refleksi tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit. Setelah membaca, misalnya, murid dapat diminta menemukan kata baru, lalu memecahnya menjadi suku kata. Kata “sepatu” dapat diuraikan menjadi “se-pa-tu” sambil bertepuk tangan. Guru juga dapat menggunakan gambar buah untuk mengajak anak mengenali huruf vokal dari kata-kata yang sudah akrab dengan mereka.
Beberapa waktu kemudian, saat kembali melakukan supervisi, Nuryati mulai melihat perubahan. Guru kelas 1 dan 2 sudah menggunakan proyektor dalam pembelajaran. Kegiatan membaca 15 menit juga mulai dilakukan dengan cara berbeda.
Anak-anak kini diajak duduk berkelompok. Guru membacakan cerita, sementara murid mendengarkan dan menyimak bersama. Pojok baca yang sebelumnya jarang digunakan juga mulai dimanfaatkan dalam kegiatan belajar.
“Menurut saya, pendampingan KREASI juga membuat praktik pembelajaran menjadi lebih terarah. Setelah mengikuti kegiatan KREASI, saya mendapatkan pengalaman dan ide yang kemudian saya bagikan kepada guru-guru,” kata Nuryati.
Nuryati tetap memandang perangkat pembelajaran sebagai bagian penting dari pekerjaan guru. Namun, dari pengalamannya mengikuti Pembelajaran Sejawat, ia semakin memperhatikan apa yang terjadi setelah rencana pembelajaran dibuat: bagaimana guru mengajar, bagaimana murid merespons, dan apa yang perlu dilakukan ketika anak belum memahami pelajaran.
Kini, hasil supervisi tidak hanya menjadi catatan bagi Nuryati. Ia dapat membawanya ke Pembelajaran Sejawat, mendengar pengalaman kepala sekolah lain, lalu kembali ke sekolah dengan ide-ide yang bisa dicoba bersama para guru.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pulau Morotai dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Stimulant Institute, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Ayutama Putri Jordy | Editor: Laras Sabila Putri | Foto: Ayutama Putri Jordy/KREASI/Stimulant Institute/Save the Children