Skip to content Skip to footer

Ubah Cara Supervisi, Simson Dorong Perbaikan Pembelajaran di Kelas

Bagi Simson, supervisi merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai kepala sekolah. Namun, sebelum mengikuti pelatihan dan pendampingan Program KREASI, supervisi yang ia lakukan lebih banyak berfokus pada kelengkapan administrasi guru, mulai dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) hingga silabus. Seiring waktu, ia menyadari bahwa dokumen yang lengkap belum tentu mencerminkan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas.

“Selama ini supervisi yang saya lakukan tidak pernah menyasar siswa, tetapi lebih ke administrasi. Saya biasanya memeriksa, apakah ada RPP atau tidak, apakah ada silabus atau tidak. Jadi ketika guru nilainya tinggi dalam administrasi, kita anggap sudah bagus. Tetapi ketika masuk ke proses pembelajaran, ternyata administrasi dan bagaimana pembelajaran di kelas tidak selalu sesuai,” ujar Simson.

Cara supervisi tersebut juga memengaruhi prioritas guru, yang terkadang lebih banyak mencurahkan waktu untuk menyelesaikan administrasi. Bagi Simson, administrasi tetap penting, tetapi perlu berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kualitas pembelajaran dan kebutuhan murid.

Ketika sekolahnya pertama kali menjadi sekolah dampingan KREASI, Simson sempat menganggap hal ini akan menambah beban pekerjaan. Namun, pandangannya berubah setelah mengikuti berbagai proses pelatihan dan pendampingan.

“Saat pertama kali mendengar KREASI hadir di sekolah kami, saya sempat berpikir, ‘Wah, ini pasti akan menambah beban kerja.’ Namun, seiring proses yang kami jalani bersama, saya merasakan hal yang berbeda. KREASI justru membantu meringankan pekerjaan kami dan memberikan jalan keluar untuk berbagai permasalahan yang dihadapi,” ungkapnya.

Melalui pendampingan KREASI, Simson mulai mengembangkan pendekatan supervisi yang tidak hanya melihat kelengkapan dokumen, tetapi juga mengamati proses pembelajaran secara langsung. Ia memperhatikan metode yang digunakan guru, keterlibatan murid, serta tantangan yang muncul selama kegiatan belajar.

Temuan dari supervisi tersebut kemudian menjadi bahan diskusi dalam kegiatan Pembelajaran Sejawat, sebuah ruang bagi Simson dan kepala sekolah lainnya untuk saling berbagi pengalaman, mendiskusikan persoalan pembelajaran, dan mencari solusi yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.

“Topik dalam Pembelajaran Sejawat berbeda-beda. Namun, setiap sesi selalu memunculkan hal-hal yang kami pikirkan dan hadapi di sekolah. Menurut saya, hal yang bagus adalah kami tidak saling menggurui, tetapi saling memberikan solusi yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing. Selama ini, KKG dan K3S lebih banyak membahas bagaimana administrasinya. Sementara itu, bagaimana mencari solusi atas persoalan pembelajaran dan mendorong guru untuk berkreasi justru baru saya dapatkan melalui KREASI,” kata Simson.

Salah satu persoalan yang dibahas adalah penggunaan metode ceramah yang terlalu dominan sehingga murid kesulitan mempertahankan fokus selama pembelajaran. Melalui diskusi bersama, muncul gagasan untuk menggunakan media pembelajaran yang lebih beragam, seperti kartu, video, dan papan interaktif yang tersedia di sekolah.

Ketika pendekatan tersebut mulai diterapkan, Simson mengamati bahwa murid menjadi lebih fokus dan terlibat dalam pembelajaran. Persoalan yang sebelumnya ditemukan saat supervisi kini dapat ditindaklanjuti melalui diskusi dan praktik langsung di kelas.

Perubahan juga terlihat dalam cara guru mendampingi murid yang mengalami kesulitan membaca. Jika sebelumnya murid yang belum lancar membaca atau berhitung cenderung ditegur atau diminta belajar kembali di rumah, kini guru mulai memberikan pendampingan yang lebih personal dan bertahap.

“Sekarang, ketika siswa belum lancar membaca, guru mendekati siswa dan membimbingnya. Guru menunjukkan dengan baik apa yang harus dilakukan. Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak lagi merasa takut. Mereka mulai melihat bahwa pembelajaran ternyata tidak sulit dan tidak menakutkan,” jelas Simson.

Simson juga menceritakan pengalaman seorang murid yang sebelumnya merasa tidak nyaman mengikuti pembelajaran hingga enggan datang ke sekolah. Setelah guru mencoba pendekatan literasi yang berbeda, murid tersebut mulai kembali aktif mengikuti kegiatan belajar bersama teman-temannya.

Pengalaman ini memperkuat keyakinan Simson bahwa supervisi seharusnya tidak berhenti pada penilaian administrasi, tetapi menjadi bagian dari upaya memperbaiki pengalaman belajar murid.

“Intinya, kita harusnya berfokus pada siswa dan guru, bukan administrasi.”

Bagi Simson, perubahan paling berarti bukan hanya pada cara melakukan supervisi, melainkan pada bagaimana temuan di kelas dapat menjadi awal dari perbaikan pembelajaran. Melalui supervisi, diskusi dalam Pembelajaran Sejawat, dan penerapan solusi bersama guru, ia menemukan bahwa persoalan pembelajaran dapat dihadapi melalui proses belajar dan refleksi yang berkelanjutan.

_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pulau Morotai dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Stimulant Institute, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Penulis: Ayutama Putri Jordy | Editor: Laras Sabila Putri | Foto: Ayutama Putri Jordy/KREASI/Stimulant Institute/Save the Children