Skip to content Skip to footer

Cara Baru Dahrina Mendampingi Anak Belajar

Di dalam satu kelas, tidak semua anak memiliki kemampuan belajar yang sama. Dahrina, guru kelas 2 di salah satu sekolah dampingan KREASI, menyadari hal tersebut setelah mengikuti pelatihan dan mendapat pendampingan.

Sebelum mengikuti pelatihan, Dahrina belum menggunakan asesmen untuk mengetahui kemampuan anak. Ketika ingin mengetahui apakah seorang anak sudah mengenal huruf, ia biasanya hanya menanyakannya secara langsung.

“Sebelum pelatihan KREASI, saya belum tahu cara melakukan asesmen. Masuk sekolah ya langsung tanya saja, sudah tahu huruf belum?” kata Dahrina.

Melalui pelatihan KREASI, Dahrina kemudian belajar menggunakan asesmen untuk mengetahui kemampuan anak. Hasilnya memberinya gambaran mengenai kondisi masing-masing siswa. Dari sana, ia mulai mengelompokkan anak berdasarkan kemampuan dan memberikan pendampingan sesuai dengan tingkat kemampuan mereka.

Selain asesmen, Dahrina juga belajar mengubah cara mengajarnya. Sebelum mengikuti pelatihan, pembelajaran di kelas masih cenderung monoton. Setelah berdoa, kegiatan biasanya langsung dilanjutkan dengan mengumpulkan pekerjaan rumah dan menulis, sementara kegiatan literasi belum menjadi bagian dari awal pembelajaran.

“Sebelum ikut pelatihan, kami masuk kelas dan langsung menulis. Belum ada kegiatan literasi membaca lima sampai sepuluh menit. Jadi, memang terasa monoton,” kata Dahrina.

Setelah mengikuti pelatihan KREASI, Dahrina juga mengubah cara ia membangun suasana sebelum belajar. Ia menyempatkan diri menyemangati siswa, menanyakan kabar, dan memberikan waktu untuk kegiatan literasi. Ia juga mulai memahami pentingnya menggunakan alat dan media ajar. Jika sebelumnya ia lebih banyak berfokus pada apa yang ada di buku, kini ia mulai menggunakan media seperti kartu huruf.

“Pikiran saya terbuka. Oh, mengajar harus pakai alat agar anak lebih fokus. Saya harus bisa berkreasi agar anak lebih cepat paham,” kata Dahrina.

Dalam mengajarkan literasi, Dahrina mulai memahami tahapan yang perlu dilakukan. Ia mengenalkan bunyi, huruf, dan suku kata sebelum masuk ke pemahaman materi.

“Dari pelatihan, saya jadi tahu cara mengajarkan literasi secara bertahap. Anak perlu dikenalkan bunyi terlebih dahulu, huruf, suku kata, baru pemahaman materi. Ini membuat cara mengajar saya lebih terarah,” kata Dahrina.

Pemahaman tentang kebutuhan anak juga mengubah cara Dahrina melihat ruang belajar. Sudut baca yang sebelumnya sudah tersedia di kelas ternyata belum ia manfaatkan untuk mendukung pembelajaran.

“Sekolah kita sudah pernah buat sudut baca, tapi dulu kami belum tahu sudut baca ini seperti apa, gunanya apa. Saya pikir hanya sebagai hiasan kelas. Setelah mengikuti pelatihan saya baru memahami bagaimana cara memaksimalkan sudut baca untuk membangun literasi anak. Sekarang saya menambahkan tempelan huruf abjad, huruf besar dan kecil, serta kosakata agar dapat dilihat oleh anak-anak saat belajar di sudut baca,” kata Dahrina.

Jika sebelumnya sudut baca hanya terdiri dari meja dan buku, kini sudut tersebut menjadi lebih ramai dengan berbagai tempelan. Dahrina mengatakan anak-anak menjadi lebih senang dan antusias setelah ia mengubah suasana sudut baca dan metode belajar yang digunakan.

Perubahan cara mendampingi anak juga terlihat ketika Dahrina mengelola kelas. Sebelumnya, ketika beberapa anak mulai tidak memperhatikan saat belajar, ia lebih banyak memberikan teguran secara lisan. Kini, ia menggunakan kesepakatan kelas yang telah dibuat bersama sebagai pengingat.

Saat sedang mendampingi satu kelompok dan kelompok lainnya mulai ribut, Dahrina cukup mengingatkan mereka tentang kesepakatan kelas. Anak-anak kemudian mengingat kembali apa yang telah disepakati.

“Saya tanamkan bahwa kesepakatan kelas ini adalah janji dan kita tidak boleh melanggar. Ini untuk membentuk karakter mereka juga,” kata Dahrina. Berbagai hal yang dipelajari Dahrina melalui pelatihan KREASI kini mulai menjadi bagian dari kesehariannya di kelas. Perubahan tersebut membuat Dahrina memiliki lebih banyak cara untuk memahami kebutuhan anak dan menyesuaikan pembelajaran dengan kemampuan mereka.

_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pulau Morotai dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Stimulant Institute, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Penulis: Ayutama Putri Jordy | Editor:Andika Ramadhan | Foto: Ayutama Putri Jordy/KREASI/Stimulant Institute/Save the Children