Skip to content Skip to footer

Cerita Kemenag Morotai soal Dampak KREASI bagi Madrasah

Ketika Program KREASI pertama kali hadir di Pulau Morotai, Mukmin Ali, Kepala Seksi Pendidikan Islam (Kasi Pendis) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pulau Morotai, mengaku belum sepenuhnya memahami arah program tersebut. Sebagai pihak yang membina madrasah di wilayahnya, ia sempat mempertanyakan tujuan dan dasar pelaksanaan berbagai kegiatan yang diperkenalkan kepada sekolah-sekolah.

“Saya awalnya berpikir, ini apa sih? Saya ragu, arahnya ke mana, dasar pelaksanaan kegiatannya seperti apa?” kenang Mukmin.

Namun, seiring keterlibatannya dalam berbagai kegiatan dan proses pendampingan KREASI, keraguan itu perlahan berubah menjadi keyakinan. Setelah memahami lebih jauh, Mukmin melihat bahwa program ini memiliki landasan yang kuat dan sejalan dengan berbagai regulasi pendidikan yang telah ditetapkan pemerintah.

“Ternyata dasarnya sesuai dengan peraturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, undang-undang, dan peraturan menteri. Setelah saya ikuti, arah sasarannya ternyata ke pendidikan dan perlindungan anak,” ujarnya.

Bagi Mukmin, keselarasan tersebut menjadi penting karena tujuan yang diusung KREASI sejalan dengan upaya Kementerian Agama dalam mengembangkan madrasah yang aman, ramah anak, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik secara menyeluruh. Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, guru dan pihak madrasah mulai memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai langkah-langkah pencegahan serta penanganan berbagai persoalan yang melibatkan anak.

Menurutnya, sebelum mendapatkan pendampingan, banyak sekolah yang masih menangani persoalan anak secara sederhana tanpa memiliki mekanisme yang jelas. Salah satu contoh yang sering ditemui adalah perundungan verbal antarsiswa yang umumnya hanya ditangani melalui konseling tanpa adanya sistem pencegahan yang lebih komprehensif.

“Di madrasah ini kadang ada anak-anak yang saling mengejek secara verbal. Selama ini kami biasanya hanya menangani melalui konseling. Saat itu belum ada alur yang lebih jelas untuk mencegah maupun menangani situasi seperti itu. Setelah mendapat pendampingan dari KREASI, guru jadi lebih memahami langkah-langkah yang perlu dilakukan,” jelas Mukmin.

Seiring berjalannya program, ia melihat perubahan yang semakin nyata di lingkungan madrasah. Berbagai sekolah mulai memiliki mekanisme yang lebih jelas dalam membangun lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik. Pendekatan yang diterapkan juga terus disesuaikan dengan perkembangan kebijakan pemerintah sehingga tetap relevan dengan kebutuhan sekolah dan madrasah.

Sebagai Kasi Pendis, Mukmin secara rutin melakukan kunjungan dan koordinasi dengan kepala madrasah maupun guru. Dari berbagai pertemuan tersebut, ia menyaksikan secara langsung bagaimana perubahan tidak hanya terjadi pada aspek perlindungan anak, tetapi juga pada proses pembelajaran di kelas.

“Saya sering turun dan berkoordinasi dengan kepala madrasah dan guru. Mereka juga menyampaikan soal program KREASI. Ada siswa yang kapasitasnya lambat memahami materi, dan KREASI membantu itu,” katanya.

Menurut Mukmin, salah satu perubahan terbesar yang terlihat adalah meningkatnya semangat guru untuk terus belajar dan mengembangkan kualitas pembelajaran.

“Yang paling inti itu semangat guru. Peningkatan kapasitas di madrasah juga signifikan, mulai dari bagaimana mereka mengembangkan perangkat pembelajaran dan model pembelajaran. Target dan arah sasarannya tercapai,” ujarnya.

Perubahan tersebut tidak hanya dirasakan dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari, tetapi juga mulai terlihat melalui berbagai capaian madrasah di tingkat provinsi. Mukmin mencontohkan partisipasi madrasah dari Pulau Morotai dalam Gerakan Literasi Madrasah (GALATAMA) yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara.

Pada pelaksanaan GALATAMA tahun 2025, madrasah-madrasah dari Pulau Morotai mulai menunjukkan peningkatan prestasi. Menurut Mukmin, guru-guru menerapkan berbagai metode pembelajaran yang diperoleh melalui pendampingan KREASI untuk membantu siswa memahami materi secara lebih efektif.

“Madrasah sudah mendapat pendampingan dari KREASI sejak awal 2025, sehingga guru-guru sudah mendapat ilmu tentang bagaimana supaya siswa cepat paham materi pembelajaran. Metode yang sama digunakan agar siswa lebih cepat memahami materi lomba. Saya sempat bertanya metode itu dari mana, dan guru-guru mengatakan bahwa itu merupakan ilmu yang mereka dapatkan dari teman-teman KREASI,” tuturnya.

Peningkatan tersebut berlanjut pada GALATAMA 2026. Menurut Mukmin, hasil yang diraih madrasah dari Pulau Morotai bahkan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

“Bedanya, tahun ini lebih wow dibanding tahun kemarin. Lebih banyak juara yang didapatkan oleh madrasah dari Morotai dibanding tahun lalu. Yang paling memengaruhi madrasah bisa berprestasi di tingkat provinsi adalah metode yang dipakai guru-guru untuk mengajar. Itu yang paling berpengaruh sehingga anak-anak menjadi lebih berprestasi,” katanya.

Bagi Mukmin, dampak KREASI tidak hanya terlihat pada peningkatan kualitas pembelajaran dan prestasi peserta didik. Ia juga melihat bagaimana program ini membantu memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam memenuhi hak-hak dasar anak.

Menurutnya, KREASI turut mendukung berbagai upaya pemerintah daerah, mulai dari peningkatan mutu pendidikan hingga penanganan persoalan administrasi kependudukan anak dan anak putus sekolah.

“KREASI turut berkolaborasi dengan pemerintah dalam peningkatan mutu, bahkan sampai soal akta kelahiran dan siswa putus sekolah. Ternyata pergerakan program ini tidak sebatas formalitas. Kami merasa terbantu dengan pelaksanaannya, terutama kegiatan di lapangan,” ujar Mukmin.

Pada akhirnya, bagi Mukmin, perubahan yang terjadi di madrasah tidak hanya diukur dari jumlah penghargaan yang berhasil diraih siswa. Yang lebih penting adalah lahirnya semangat baru di kalangan guru untuk terus belajar, semakin kuatnya sistem perlindungan anak di sekolah, serta tumbuhnya kolaborasi yang lebih erat antara madrasah, pemerintah, dan berbagai pihak lainnya. Itulah perubahan nyata yang ia saksikan sejak Program KREASI mulai berjalan di Pulau Morotai.

_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pulau Morotai dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Stimulant Institute, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Penulis: Ayutama Putri Jordy | Editor:Andika Ramadhan | Foto: Ayutama Putri Jordy/KREASI/Stimulant Institute/Save the Children