Memastikan anak-anak memasuki jenjang Sekolah Dasar (SD) dengan rasa aman dan percaya diri merupakan langkah awal yang krusial bagi keberhasilan belajar mereka. Prinsip tersebut menjadi fokus utama dalam acara Kampanye Transisi PAUD-SD Menyenangkan: Membangun Kesadaran dan Dukungan Wajib Belajar 13 Tahun yang diselenggarakan di salah satu sekolah dasar negeri di Ketapang pada 16 Juli 2026.
Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara Pokja Bunda PAUD Kabupaten Ketapang dan Program KREASI. Acara ini bertujuan memperkuat komitmen seluruh pihak dalam menciptakan lingkungan belajar yang adaptif dan ramah anak sejak hari pertama masuk sekolah.
Dalam sambutannya, Dendi Wijaya Saputra dari Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, menekankan pentingnya ketulusan dan keberlanjutan intervensi pendidikan yang saat ini telah menjangkau 7 kecamatan di Kabupaten Ketapang.
“Program KREASI fokus pada peningkatan kapasitas guru serta penguatan literasi dan numerasi esensial agar dapat diimplementasikan melalui metode pembelajaran yang tepat di kelas,” ujarnya.
Bunda PAUD Kabupaten Ketapang, Lusia Dewi Nurjana Alexander Wilyo, memperkenalkan Gerakan TALAM UBI (Transisi Langkah Anak Menyenangkan Menuju SD yang Unggul, Bahagia, dan Inklusif). Istilah lokal ini digunakan agar program transisi tersebut lebih mudah diingat dan dipahami oleh masyarakat.
“Melalui Gerakan Talam Ubi, kita ingin proses transisi anak dari PAUD ke Sekolah Dasar berjalan dengan lembut dan menyenangkan. Kita harus mencegah terjadinya hambatan psikologis atau rasa takut pada anak saat memasuki lingkungan baru. Target kita adalah menciptakan proses belajar yang unggul, bahagia, dan inklusif,” jelas Lusia.
Ia juga menegaskan kembali larangan penggunaan tes membaca, menulis, dan berhitung (calistung) sebagai syarat masuk SD. “Prioritas utama pada awal tahun ajaran adalah membuat anak merasa nyaman di sekolah. Setelah aspek emosionalnya siap, proses belajar dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan masing-masing anak,” tambahnya sekaligus mengingatkan pentingnya pendampingan orang tua di rumah.
“Anak Boleh Bermain, Tapi Jangan Main-main dengan Pendidikan”
Hadir sebagai Keynote Speaker, Pakar Pendidikan Ananto Kusuma Seta, beliau membedah urgensi investasi pada Pendidikan Anak Usia Dani (PAUD) berbasis riset global peraih Nobel Ekonomi, James Heckman. Ananto mengingatkan bahwa usia emas (golden age) adalah masa di mana otak anak menyimak secara luar biasa terhadap apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan.
“Pendidikan apabila salah langkah di awal, maka tidak akan pernah bisa diulang kembali ke belakang. Anak-anak boleh bermain, tapi kita tidak boleh main-main dengan pendidikan mereka. Nasib mereka ditentukan pada masa-masa ini. Apa yang kita lakukan hari ini sesungguhnya ialah ‘membeli masa depan’ bangsa,” tutur Ananto.
“Bukan anak yang harus menyesuaikan diri dengan sekolah, namun sekolahlah yang harus siap menyambut setiap anak dengan segala keunikan yang mereka bawa.”
Berdasarkan hasil pembahasan teknis kegiatan, para pendidik diarahkan untuk menerapkan tiga prinsip utama dalam proses pembelajaran di kelas rendah, yaitu mindful (penuh kesadaran), meaningful (bermakna), dan joyful (menggembirakan). Dari prinsip tersebut, dirumuskan tiga poin penting bagi para guru:
Aspek Emosional: Anak dapat menyerap pembelajaran dengan lebih baik apabila berada dalam lingkungan yang aman dan penuh penerimaan. Hubungan emosional yang baik dengan guru menjadi kunci awal.
Metode Interaktif: Anak-anak perlu didorong untuk aktif berpikir melalui pertanyaan terbuka, bukan sekadar menerima materi secara pasif.
Sinergi Sekolah dan Keluarga: Keberhasilan transisi memerlukan kerja sama dua arah yang konsisten antara guru di sekolah dan orang tua di rumah.
Pada akhirnya, keberhasilan layanan PAUD tidak diukur dari kemampuan akademik instan seperti kecepatan membaca sebelum masuk SD. Indikator keberhasilan yang sejati adalah terbangunnya rasa percaya diri, kemandirian, kemampuan bersosialisasi, serta motivasi internal anak untuk terus belajar.
Melalui Kampanye Transisi PAUD-SD Menyenangkan ini, KREASI berharap semakin banyak sekolah di Kabupaten Ketapang yang menerapkan ekosistem pendidikan inklusif dan humanis demi mendukung pencapaian program Wajib Belajar 13 Tahun.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Ketapang dikelola Save the Children dan diimplementasi Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Ketapang dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Afriyandi Nur Huda | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Afriyandi Nur Huda/KREASI/Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah/Save the Children