Sebanyak delapan kepala sekolah mitra Program KREASI mengikuti Pelatihan Fasilitator Kelompok Pembelajaran Sejawat Kepala Sekolah yang berlangsung pada 17–18 Juli 2026 di Kabupaten Pesisir Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Program Pengembangan Kapasitas Kepala Sekolah KREASI sekaligus tindak lanjut dari Pelatihan Tahap 1 yang telah dilaksanakan pada Juni 2026. Setelah seluruh kepala sekolah memperkuat kapasitas kepemimpinan dan supervisi akademik, pelatihan ini berfokus menyiapkan delapan kepala sekolah terpilih sebagai fasilitator kelompok yang akan mendampingi pembelajaran sejawat bagi 22 kepala sekolah mitra lainnya.
Melalui pembelajaran sejawat, proses pengembangan kapasitas kepala sekolah tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Program KREASI mendorong agar praktik baik yang telah dipelajari dapat terus didiskusikan, direfleksikan, dan diterapkan secara berkelanjutan melalui kelompok belajar kepala sekolah. Dalam mekanisme ini, fasilitator kelompok tidak berperan sebagai atasan atau narasumber utama, melainkan sebagai rekan sejawat yang membantu menjaga proses belajar tetap berjalan setara, partisipatif, dan berorientasi pada penyelesaian tantangan nyata di sekolah.
Selama dua hari pelatihan, peserta mendalami konsep pembelajaran sejawat, memahami peran fasilitator kelompok, hingga berlatih memimpin sesi diskusi melalui berbagai simulasi. Beragam metode digunakan dalam pelatihan, mulai dari berbagi pengalaman, diskusi kelompok, refleksi, studi kasus, hingga praktik memfasilitasi pertemuan pembelajaran sejawat secara bergantian. Dengan demikian, setiap peserta memiliki kesempatan merasakan langsung peran sebagai fasilitator sekaligus sebagai peserta yang akan mereka dampingi nantinya.
Salah satu sesi yang paling berkesan adalah ketika para kepala sekolah diminta menceritakan pengalaman mereka selama memimpin sekolah. Berbagai kisah muncul dari ruang diskusi; mulai dari perjuangan membangun kedisiplinan guru, menguatkan komitmen rekan kerja, hingga mengupayakan sekolah yang semula memiliki keterbatasan fasilitas agar menjadi tempat belajar yang lebih layak bagi anak-anak. Dalam sesi tersebut, suasana sempat berubah haru ketika beberapa peserta tak kuasa menahan air mata saat mengenang perjalanan panjangnya sebagai kepala sekolah. Momen itu menjadi pengingat bahwa di balik setiap sekolah, ada perjuangan yang sering kali dijalani dalam diam.
Dari berbagai cerita yang dibagikan, peserta menyadari bahwa tantangan yang mereka hadapi ternyata tidak jauh berbeda. Setiap kepala sekolah memiliki persoalannya masing-masing, tetapi juga membawa pengalaman dan cara penyelesaian yang bisa menjadi pembelajaran bagi kepala sekolah lain. Kesadaran inilah yang menjadi dasar pentingnya pembelajaran sejawat: menyediakan ruang yang aman bagi kepala sekolah untuk saling bertukar pengalaman, berdiskusi, dan mencari solusi bersama terhadap persoalan yang dihadapi di sekolah.
Pada hari kedua, pelatihan difokuskan pada praktik memimpin pembelajaran sejawat. Peserta dibagi ke dalam dua kelompok dan secara bergantian memerankan fasilitator kelompok. Mereka berlatih mengelola diskusi, menggunakan instrumen pendampingan, memberikan pertanyaan reflektif, hingga menghadapi berbagai karakter peserta yang mungkin ditemui saat mendampingi kelompok, seperti peserta yang dominan, pasif, defensif, maupun yang masih kesulitan mengembangkan gagasan. Simulasi ini membantu peserta membayangkan situasi nyata yang akan mereka hadapi ketika mulai memfasilitasi kelompok kepala sekolah di wilayah masing-masing.
Pelatihan juga membekali peserta dengan strategi mengantisipasi berbagai tantangan yang mungkin muncul di lapangan. Melalui sesi refleksi dan mitigasi, para fasilitator kelompok memetakan karakter anggota kelompoknya, mendiskusikan pendekatan yang sesuai, serta menyusun langkah-langkah yang dapat dilakukan agar setiap pertemuan pembelajaran sejawat tetap berjalan partisipatif dan berorientasi pada penyelesaian masalah bersama.
Kegiatan ini menjadi langkah awal membangun kelompok belajar kepala sekolah yang dapat saling menguatkan. Di tengah berbagai tantangan memimpin sekolah, kepala sekolah juga membutuhkan ruang untuk berbagi pengalaman, mendapatkan sudut pandang baru, dan menemukan dukungan dari rekan sejawat yang menghadapi situasi serupa. Melalui pembelajaran sejawat, proses belajar tidak berhenti setelah pelatihan selesai, tetapi terus berlanjut dalam pertemuan-pertemuan rutin yang mendorong tumbuhnya praktik baik di sekolah.
Melalui penguatan kapasitas fasilitator kelompok ini, Program KREASI berharap pembelajaran sejawat dapat berjalan secara mandiri dan berkelanjutan di seluruh gugus sekolah mitra. Dengan budaya saling belajar yang terus tumbuh, kepala sekolah tidak hanya berkembang sebagai pemimpin pembelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari jejaring yang saling mendukung dalam menghadirkan pembelajaran yang semakin berpihak pada murid.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pesisir Barat dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Yayasan Guru Belajar, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Clara Sidharta | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Clara Sidharta/KREASI/Yayasan Guru Belajar/Save the Children