Berawal dari ruang berbagi antarkepala sekolah, sebuah inisiatif lahir untuk membantu peserta didik mengejar kemampuan membaca.
“Perubahan tidak selalu dimulai dari program yang besar, tetapi dari keberanian untuk mengambil langkah pertama.” Semangat itulah yang terlihat di salah satu SD Negeri, Kecamatan Sitolu Ori, Kabupaten Nias Utara, ketika sebuah rencana yang telah lama disiapkan akhirnya diwujudkan menjadi aksi nyata melalui Kelas Tambahan Literasi.
Kepedulian terhadap kemampuan literasi peserta didik menjadi titik awal lahirnya inisiatif ini. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman para guru wali kelas selama mendampingi proses belajar mengajar, masih ditemukan beberapa peserta didik, termasuk di kelas tinggi, yang belum mengenal huruf maupun membaca kata dengan lancar. Kondisi tersebut berdampak pada kemampuan anak dalam mengikuti pembelajaran di berbagai mata pelajaran dan menjadi perhatian bersama seluruh warga sekolah.
Perhatian tersebut semakin menguat setelah Dinas Pendidikan Kabupaten Nias Utara mendorong sekolah-sekolah untuk memperkuat kemampuan literasi sebagai tanggung jawab bersama. Harapannya, setiap peserta didik memiliki bekal kemampuan membaca yang memadai sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.
Sebenarnya, gagasan untuk membuka kelas tambahan literasi bukanlah hal baru bagi SD Botombawo. Namun, rencana tersebut semakin matang setelah Kepala Sekolah mengikuti Pembelajaran Sejawat yang difasilitasi oleh Program KREASI. Melalui forum tersebut, para kepala sekolah saling berbagi pengalaman, tantangan, dan praktik baik dalam mengelola pembelajaran di sekolah masing-masing. Salah satu praktik yang menginspirasi adalah pelaksanaan kelas tambahan literasi di sekolah lain.
“Kegiatan kelas tambahan literasi ini sebenarnya sudah lama kami rencanakan. Arahan dari Dinas Pendidikan semakin menguatkan niat kami. Setelah mengikuti Pembelajaran Sejawat melalui Program KREASI, kami melihat contoh nyata dari sekolah lain dan semakin yakin bahwa kegiatan ini juga bisa kami lakukan. Kami merasa tidak berjalan sendiri karena ada ruang untuk saling belajar dan saling menguatkan,” ungkap Invrah Kepala SD Negeri.
Inspirasi tersebut kemudian diwujudkan melalui diskusi bersama para guru. Dari hasil kesepakatan, sekolah memutuskan untuk menyelenggarakan Kelas Tambahan Literasi setiap hari Jumat pukul 11.30 WIB, setelah kegiatan belajar mengajar selesai. Program ini mulai dilaksanakan pada 7 Agustus 2026 dan diikuti oleh 28 peserta didik dari kelas II hingga kelas VI. Hari Jumat dipilih berdasarkan kesepakatan bersama guru agar pelaksanaannya tidak mengganggu pembelajaran reguler.
Untuk memastikan pendampingan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, kegiatan dibagi menjadi dua kelompok belajar. Grup A diperuntukkan bagi peserta didik yang masih belum mengenal huruf, sedangkan Grup B bagi peserta didik yang telah mengenal huruf tetapi masih mengalami kesulitan mengenal dan membaca kata. Dengan pembagian ini, guru dapat memberikan pendampingan yang lebih terarah sesuai kemampuan masing-masing anak.
Pelaksanaan kelas tambahan literasi menjadi wujud kolaborasi seluruh warga sekolah. Setiap hari Jumat, dua orang guru secara bergiliran mendampingi kegiatan sesuai jadwal yang telah disusun. Orang tua peserta didik juga memberikan dukungan dengan menghadiri kegiatan sosialisasi dan mengizinkan anak-anak mengikuti pembelajaran tambahan di luar jam sekolah.
Bagi sekolah ini, Program KREASI bukan hanya menghadirkan pelatihan, tetapi juga membuka ruang bagi kepala sekolah untuk saling belajar melalui Pembelajaran Sejawat. Ruang belajar tersebut mendorong kepala sekolah untuk mengadaptasi praktik baik yang sesuai dengan kebutuhan sekolahnya, sekaligus menumbuhkan keyakinan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana.
“Kami berharap Program KREASI terus mendampingi sekolah, khususnya dalam memberikan masukan mengenai metode, mekanisme, materi, dan modul pembelajaran literasi. Dengan begitu, kelas tambahan literasi ini dapat berkembang menjadi kegiatan yang semakin efektif dalam membantu anak-anak belajar membaca,” tambah Invrah.
Inisiatif SD ini juga memiliki semangat yang sejalan dengan pendekatan Klub Bermain Literasi dan Numerasi (CuC) yang akan diimplementasikan pada Tahun Kedua Program KREASI. Pengalaman awal ini menjadi modal yang baik bagi sekolah untuk semakin siap memperkuat pembelajaran literasi melalui pendampingan yang akan diberikan pada tahap berikutnya.
Meskipun kegiatan ini baru dimulai dan dampaknya terhadap kemampuan membaca peserta didik belum dapat diukur, perubahan awal telah terlihat. Sekolah kini memiliki jadwal khusus untuk penguatan literasi, guru-guru berkomitmen mendampingi peserta didik di luar jam pelajaran, orang tua memberikan dukungan, dan kepala sekolah berhasil menggerakkan seluruh warga sekolah untuk bersama-sama mencari solusi atas tantangan literasi yang dihadapi.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus menunggu sebuah program besar dimulai. Ketika sekolah memiliki kemauan untuk bergerak, didukung oleh kolaborasi guru, orang tua, pemerintah daerah, serta ruang belajar yang difasilitasi Program KREASI, langkah-langkah kecil dapat menjadi awal lahirnya budaya literasi yang lebih kuat.
Ke depan, SD Negeri ini berharap seluruh peserta didik yang mengikuti kelas tambahan literasi mampu mengenal huruf, membaca dengan lebih lancar, dan memiliki kepercayaan diri dalam belajar. Sekolah juga berharap pendampingan Program KREASI dapat semakin memperkuat pelaksanaan kegiatan ini sehingga menjadi praktik baik yang dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Nias Utara. Karena ketika kepala sekolah saling belajar, inspirasi tidak berhenti di ruang diskusi. Inspirasi itu tumbuh menjadi aksi nyata yang membuka lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Nias Utara dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Article 33 Indonesia, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Nias Utara dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Calvin Telaumbanua | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Calvin Telaumbanua/KREASI/Article 33 Indonesia/Save the Children