Skip to content Skip to footer

Melihat Sekolah Melalui Mata Anak: Menyiapkan Fasilitator Daerah untuk Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Sebanyak 12 guru calon Fasilitator Daerah Program KREASI Pesisir Barat mengikuti kegiatan Onboarding Fasilitator Daerah Perlindungan Anak dan Manajemen Kasus yang berlangsung pada 9–13 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya KREASI Pesisir Barat dalam memperkuat ekosistem perlindungan anak di sekolah sekaligus mempersiapkan pendamping bagi 30 sekolah mitra tahun kedua di Pesisir Barat.

Pelatihan ini diselenggarakan untuk membekali para fasilitator dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam mencegah serta menangani kekerasan di lingkungan pendidikan. Mengacu pada semangat Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, para peserta dipersiapkan untuk menjadi pendamping yang mampu membantu sekolah membangun lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan berpihak pada kepentingan terbaik anak.

Selama lima hari, para peserta belajar melalui berbagai metode yang interaktif dan menyenangkan, mulai dari diskusi kelompok, simulasi, microteaching, studi kasus, hingga refleksi bersama. Materi yang dipelajari mencakup fondasi perlindungan anak, identifikasi risiko kekerasan, deteksi dini dan pelaporan, dukungan psikologis awal, manajemen kasus, hingga strategi pelibatan anak dalam menciptakan budaya sekolah yang aman dan nyaman. Proses pembelajaran tersebut juga memperkuat pemahaman bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab seluruh warga sekolah.

Salah satu momen yang paling membekas hadir saat peserta diajak membuat maket lingkungan sekolah ramah anak. Setelah menyelesaikan rancangan masing-masing, para fasilitator membaca berbagai pesan dan harapan dari anak-anak. Dari kegiatan sederhana itu muncul refleksi bersama bahwa sudut pandang orang dewasa tidak selalu sejalan dengan kebutuhan anak.

Banyak harapan yang disampaikan anak ternyata sangat sederhana. Mereka menginginkan lingkungan yang membuat mereka merasa aman, didengar, memiliki teman, dan dapat belajar dengan nyaman. Pengalaman tersebut mengingatkan para peserta bahwa suara anak perlu dilibatkan dalam setiap perencanaan. Sebab, merekalah yang setiap hari tumbuh dan belajar di lingkungan tersebut.

Hari-hari pelatihan juga menjadi ruang bagi para peserta untuk saling berbagi pengalaman dan belajar satu sama lain. Berbagai simulasi mengenai penanganan kasus dan pemberian respons awal membantu peserta memahami pentingnya menjaga kerahasiaan, menghormati martabat anak, serta memastikan setiap keputusan selalu berorientasi pada kebutuhan terbaik mereka.

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan, para fasilitator menyusun rencana tindak lanjut yang akan menjadi panduan dalam mendampingi sekolah-sekolah sasaran. Ke depan, mereka akan melakukan transfer pengetahuan kepada 30 sekolah mitra KREASI tahun kedua di Pesisir Barat melalui pelatihan, pendampingan, dan monitoring secara berkelanjutan.

Melalui penguatan kapasitas ini, KREASI meyakini bahwa budaya sekolah yang aman dan nyaman tidak lahir dari aturan semata, melainkan dari orang-orang yang terus belajar, mendengarkan, dan bersama-sama menghadirkan ruang terbaik bagi setiap anak untuk tumbuh.

_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pesisir Barat dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Yayasan Guru Belajar, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Penulis: Clara Sidharta | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Clara Sidharta/KREASI/Yayasan Guru Belajar/Save the Children