Skip to content Skip to footer

Kisah Karmawati, Guru dari Kayong Utara yang Tumbuh Bersama KREASI

Sejak mulai mengabdi sebagai guru pada tahun 2007, Karmawati selalu memegang satu keyakinan: setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Baginya, menjadi pendidik bukan hanya tentang mengajar di ruang kelas, tetapi juga tentang menumbuhkan harapan, terutama bagi anak-anak yang belum sepenuhnya memiliki kesempatan dan dukungan untuk belajar. Semangat itulah yang terus ia bawa hingga kini, ketika ia menjalankan peran sebagai guru sekaligus kepala sekolah dampingan Program KREASI di Kabupaten Kayong Utara.

Sebagai seorang perempuan, pendidik, istri, dan ibu, perjalanan Karmawati tidak selalu mudah. Tantangan terbesarnya adalah membagi waktu dan energi antara tanggung jawab di sekolah dan peran di rumah. Di sekolah, ia harus memastikan proses belajar berjalan baik, mendampingi guru, membimbing siswa, dan mengelola berbagai kebutuhan satuan pendidikan. Di rumah, ia tetap menjalankan perannya dalam keluarga. Namun, di tengah berbagai tantangan itu, Karmawati tetap berusaha hadir sebagai sosok yang kuat, sabar, dan konsisten bagi anak-anak didiknya.

Perubahan mulai semakin terasa ketika sekolahnya menjadi bagian dari dampingan Program KREASI. Selama setahun pendampingan, Karmawati melihat adanya dorongan baru dalam proses pembelajaran di sekolah. Program KREASI membuka wawasan guru-guru tentang metode dan media pembelajaran yang lebih kreatif, menyenangkan, dan dekat dengan kebutuhan siswa. Pembelajaran yang sebelumnya cenderung berjalan biasa, perlahan mulai berkembang menjadi lebih hidup dan partisipatif.

Bagi Karmawati, salah satu dampak paling nyata dari KREASI adalah meningkatnya minat dan bakat siswa. Anak-anak menjadi lebih antusias mengikuti pembelajaran karena guru mulai menggunakan pendekatan yang lebih variatif. Media pembelajaran yang lebih kreatif membuat siswa lebih mudah memahami materi, lebih berani terlibat, dan lebih percaya diri menunjukkan kemampuan mereka. Perubahan ini turut mendorong peningkatan hasil belajar siswa secara nyata.

Dampak KREASI juga dirasakan oleh para guru. Melalui pendampingan dan penguatan kapasitas, guru-guru mendapatkan inspirasi baru untuk mengembangkan cara mengajar. Mereka tidak hanya diajak memahami materi, tetapi juga didorong untuk mencoba strategi pembelajaran yang lebih ramah anak dan inklusif. Bagi Karmawati sebagai kepala sekolah, perubahan ini menjadi modal penting untuk membangun budaya belajar yang lebih baik di sekolah.

Karmawati percaya bahwa pendidikan yang baik harus membuka ruang yang setara bagi semua anak, tanpa membedakan laki-laki dan perempuan. Ia berharap anak-anak di daerahnya, terutama anak perempuan, terus berani bermimpi dan menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Baginya, perempuan memiliki hak yang sama untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi bagi masa depan Indonesia.

Di momentum semangat Kartini, perjalanan Karmawati menjadi contoh bahwa perubahan pendidikan dapat dimulai dari ruang kelas, dari guru yang terus mau belajar, dan dari sekolah yang terbuka terhadap pembaruan. Melalui Program KREASI, ia melihat bahwa ketika guru diperkuat, siswa ikut tumbuh; ketika sekolah didampingi, harapan anak-anak ikut terbuka lebih luas.

“Jangan mudah mengeluh, jangan pernah merasa takut, dan jangan merasa tersaingi oleh laki-laki. Kita semua memiliki kedudukan dan hak yang sama. Teruslah bersemangat, kembangkan potensi diri, dan mari kita bersama-sama berjuang demi kemajuan bangsa,” pesan Karmawati.

Bagi Karmawati dan sekolahnya, KREASI bukan sekadar program pendampingan. KREASI telah menjadi ruang belajar bersama yang membantu guru menemukan cara baru untuk mengajar, membantu siswa menemukan semangat baru untuk belajar, dan membantu sekolah bergerak menuju pendidikan yang lebih inklusif, kreatif, dan bermakna.

_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Kayong Utara dikelola Save the Children dan diimplementasi Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Kayong Utara
 dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Penulis: Arif Kudianta | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Arif Kudianta/KREASI/Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah/Save the Children