Skip to content Skip to footer

Cerita Mansur dan Stimulant Institute: Dari Laut ke Pendidikan Berkualitas

Cerita ini ditulis oleh Mansur Taihu, Staf Stimulant Institute

Tanggal 14 April 2025 diingat sebagai hari ketika sebuah pintu dibukakan untuk saya, bukan sekadar pintu kantor tetapi kepercayaan. Saat melangkah masuk hari itu, pikiran riuh akan dua hal: ada gairah, tetapi di saat yang bersamaan ada ketakutan.

Dalam hati bertanya-tanya, apa mampu ada di sini? Apa bisa mengikuti langkah orang-orang yang sudah lebih dulu jalan? Ketakutan saya, kehadiran ini justru memperlambat laju tim.

Perasaan itu tidak muncul begitu saja. Ada cerita di belakangnya yang saya bawa sejak bertahun-tahun sebelumnya.

Sebelum tercatat sebagai bagian dari Stimulant Institute (mitra pelaksana Program Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia/KREASI di Kabupaten Pulau Morotai), saya adalah guru honorer. Keseharian berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain, dari SD ke SMP hingga SMA. Tak jarang juga menjadi operator sekolah di sela-sela mengajar.

Gaji berkisar 500 ribu hingga 1 juta rupiah sebulan, jumlah yang jauh untuk menjawab kebutuhan hidup. Saya pun memutar otak untuk tetap hidup dan menghidupi keluarga. Alhasil, ketika honor mengajar tak lagi mencukupi, saya turun ke laut menjadi nelayan musiman dan mengadu nasib dengan ombak agar dapur tetap mengepulkan asap.

Mengoreksi tugas murid di pagi hari dan menarik jaring di sore harinya, sudah jadi aktivitas sehari-hari. Bagi saya, ini adalah perjuangan sebagia anak Morotai. Bekerja apa saja, asal keluarga tetap bisa makan.

Namun di balik keletihan itu, ada sesuatu yang tidak pernah padam dalam diri, yakni kerinduan atas kualitas pendidikan di tanah kelahiran. Saya menyaksikan sendiri bagaimana wajah pendidikan di sini, bagaimana rapor pendidikan Morotai menunjukkan perlu banyak perbaikan.

Dari sanalah rasa takut dan ragu yang sempat menghantui saya di hari pertama itu, perlahan bertransformasi menjadi ambisi. Saya ingin menjadi bagian dari perbaikan itu, bukan sekadar penonton dari pinggir jalan.

Saya masih ingat, ada kalanya pulang dari laut, badan lelah, tangan masih berbau amis ikan, tapi pikiran saya sudah melayang ke sekolah. Berfikir materi apa yang akan saya bawakan esok hari.

Belajar Lagi dari Awal

Hari-hari pertama di KREASI, saya banyak diam, banyak mendengar, banyak mencatat. Bekerja di sini, bagi saya, bukan sekadar pindah tempat kerja. Ini perjalanan yang mengubah cara berpikir. Ada kalanya duduk sendiri malam-malam, membaca ulang catatan, mencoba memahami istilah-istilah baru yang tadinya asing di telinga saya.

Pelan-pelan, sambil terus berjalan dan diuji untuk bertahan, saya pun menemukan kesadaran baru. Kesadaran akan wajah pendidikan di tanah kelahiran yang memang rapuh. Lebih rapuh dari yang saya kira selama ini, bahkan setelah bertahun-tahun jadi guru di dalamnya.

Kini, sudah lebih dari setahun bersama KREASI. Terkadang lontaran kecil muncul dalam hati.

“Rasanya seperti kuliah S1 lagi, hanya saja kelasnya bukan di ruangan, tetapi di lapangan langsung,” ujarnya.

Banyak hal yang harus dipelajari, banyak cara pikir lama yang harus dilepaskan satu per satu. Tapi dalam proses itu, ada momen yang tidak akan dilupa, saat duduk satu meja dengan orang-orang perjabat: BPMP, KGTK, Kepala Dinas, bahkan DPRD.

Bukan cuma duduk diam mendengarkan, tetapi suara saya didengar, usulan diterima. Saya masih ingat rasa deg-degan waktu itu dan juga rasa bangga yang susah dijelaskan dengan kata-kata. Ini kesempatan yang tidak semua anak Morotai bisa rasakan.

Percaya Diri yang Tumbuh Pelan-Pelan

Banyak tantangan yang dihadapi selama di KREASI. Ada kalanya rasa lelah dan ragu itu datang lagi, serupa saat hari pertama saya masuk kantor dulu. Namun, setiap kali rasa itu muncul, saya coba mengingat kembali, bahwa pernah lewati hal yang jauh lebih susah dari ini, di darat maupun di laut.

Dan, setiap kali saya hampir goyah, selalu ada tim Stimulant Institute di sekitar saya, saling bantu, tidak pernah biarkan saya jalan sendiri. Selayaknya, ungkapan lama, “Toku wela-wela, rio moi jojo moi,” yang artinya, datanglah mendekat karena kami semua menopangmu, berjalanlah karena kami tidak akan membiarkanmu jatuh.

Kalau saya lihat ke belakang sekarang, saya sadar betapa jauh yang sudah berjalan. Dari guru yang hanya berdiri di depan kelas kecil, kini menjadi seseorang yang turut merancang perbaikan pendidikan di Kabupaten Pulau Morotai.

Untuk semua itu, untuk kepercayaan yang diberikan kepada anak nelayan dan guru honorer seperti saya, saya ucapkan terima kasih yang paling dalam kepada Stimulant Institute dan Program KREASI Morotai.

_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pulau Morotai dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Stimulant Institute, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Editor: Michelle G Momole, Andika Ramadhan | Foto: Ayutama Putri Jordy/KREASI/Stimulant Institute/Save the Children