Beruntunglah bila perjalanan dari rumah ke tempat kerja ditempuh dalam hitungan menit. Di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, tim Stimulant Institute, memerlukan berjam-jam untuk pulang dari pergi tempat kerja.
Stimulant Institute adalah organisasi mitra pelaksana lokal untuk Program KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) di Pulau Morotai.
Perjalanan menuju sekolah dampingan Program KREASI sering kali dimulai ketika langit masih gelap.
“Kesiapan itu selalu kami diskusikan dulu di tim internal. Besok berangkat jam berapa? Kumpul di kantor atau dijemput satu per satu di kos? Kalau kegiatan di Kecamatan Morotai Jaya jam sembilan pagi, biasanya saya sudah bangun jam tiga pagi untuk menghubungi teman-teman. Targetnya jam empat semua sudah siap, lalu jam lima kami sudah jalan,” cerita Mansur, staf Stimulant Institute.
Perjalanan menuju Morotai Jaya dengan jarak tempuh sekitar 131 kilometer dari pusat kota Morotai di Daruba, memakan waktu sekitar tiga setengah hingga empat jam. Sebagian besar ruas jalannya memang sudah beraspal dan relatif baik. Namun, tanjakan, tikungan, serta beberapa titik jalan yang berlubang dan rusak membuat kendaraan harus melaju lebih pelan.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga setengah hingga empat jam, tim biasanya tiba sekitar pukul 8.30. Kami tidak langsung memulai pelatihan. Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit untuk menyiapkan ruangan, peralatan, dan memastikan seluruh peserta siap mengikuti kegiatan.
Sore harinya, perjalanan panjang kembali menanti.
“Kegiatan selesai sekitar jam empat sore. Setelah beres-beres, biasanya kami baru pulang sekitar jam lima sore dan sampai kembali di Morotai Selatan sekitar jam delapan malam,” ujar Mansur.
Namun, perjalanan pulang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Saat hujan turun, beberapa ruas jalan menuju kerap tergenang hingga sulit dilalui.
“Kalau cuaca mulai tidak bagus, kami harus mempercepat persiapan pulang. Kalau terlambat sedikit saja, beberapa titik jalan bisa banjir dan kendaraan tidak bisa lewat,” ujar Mansur.
Tantangan tidak berhenti di perjalanan. Mengumpulkan peserta pelatihan pun membutuhkan usaha yang tidak sedikit. Jaringan telepon yang sering hilang membuat koordinasi harus dilakukan jauh-jauh hari. Bahkan, tidak jarang tim harus mendatangi sekolah atau rumah peserta secara langsung hanya untuk memastikan mereka mengetahui jadwal pelatihan.
“Kalau sekolah sedang libur, kami harus datang ke rumah guru. Pernah juga kami cek satu per satu karena tidak ada sinyal. Di beberapa tempat, kalau listrik padam, otomatis jaringan juga ikut hilang,” kata Mansur.
Kondisi tersebut juga berdampak pada pelaksanaan pelatihan. Ketika listrik padam, proyektor tidak dapat digunakan. Ruangan menjadi panas karena kipas angin ikut berhenti beroperasi.
Pengalaman serupa dirasakan Okto, staf Stimulant Institute yang berasal dari Kecamatan Morotai Utara. Sebagai putra daerah, ia sangat memahami medan dan tantangan perjalanan di wilayah tersebut.
“Kalau Morotai Selatan ke Morotai Utara, jalannya relatif bagus walaupun sekitar dua jam perjalanan. Tapi dari Gorua menuju Korago di Morotai Jaya, jalannya rusak sehingga kendaraan harus berjalan pelan-pelan,” ujar Okto.
Jarak yang jauh bahkan memengaruhi keputusan pribadinya. Daripada harus menempuh perjalanan pulang-pergi hingga empat jam setiap hari, Okto memilih tinggal di kos selama bekerja di Morotai Selatan.
“Jam kerja kami pukul delapan sampai lima. Kalau setiap hari pulang-pergi dari Morotai Utara ke Morotai Selatan, waktunya habis di jalan. Makanya saya memilih menyewa kamar kos di Morotai Selatan,” ujar Okto.
Meski begitu, menurutnya, rasa lelah selalu terbayar ketika kegiatan berjalan sesuai harapan.
“Kalau proses kegiatan sesuai rencana dan capaian peserta juga baik, rasa capek itu terbayarkan,” ujar Okto.
Tim Stimulant Institute juga terus belajar menyesuaikan metode pelatihan dengan kondisi di lapangan. Salah satu pembelajaran datang dari pelaksanaan pre-test dan post-test pada pelatihan guru tingkat gugus.
Pada pelatihan di Gugus 5 Morotai Utara dan Gugus 6 Morotai Jaya, tim menggunakan aplikasi digital untuk mengumpulkan jawaban peserta. Namun, keterbatasan jaringan internet serta belum terbiasanya sebagian peserta menggunakan perangkat digital membuat proses pengisian tidak berjalan optimal.
Berbekal pengalaman tersebut, tim mengubah pendekatan pada pelatihan di gugus berikutnya. Alih-alih menggunakan aplikasi digital, evaluasi dilakukan menggunakan lembar kertas. Hasilnya, pada pelatihan di Gugus 7 Morotai Jaya, proses pengerjaan berlangsung lebih lancar dan hasil yang diperoleh peserta pun jauh lebih baik.
Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah pelatihan tidak selalu ditentukan oleh penggunaan teknologi, melainkan oleh kemampuan menyesuaikan metode dengan kondisi di lapangan. Di wilayah yang akses internetnya belum merata, pendekatan yang lebih sederhana justru mampu mendukung proses belajar secara lebih efektif.
Bagi tim Stimulant Institute, perjalanan berjam-jam, bangun sebelum matahari terbit, melintasi tanjakan dan tikungan, menghadapi ruas jalan yang rusak, hingga menyesuaikan metode pelatihan dengan berbagai keterbatasan di lapangan merupakan bagian dari komitmen untuk memastikan guru-guru di Morotai Utara dan Morotai Jaya memperoleh kesempatan belajar yang setara. Sebab, sejauh apa pun jarak yang harus ditempuh dan sebesar apa pun tantangan yang dihadapi, semangat untuk terus belajar, bertumbuh, dan menghadirkan pendidikan yang lebih berkualitas tidak pernah surut.
Di setiap langkah perjalanan, tersimpan keyakinan bahwa perubahan besar selalu berawal dari kesempatan belajar yang diberikan kepada mereka yang selama ini berada di garis terdepan pendidikan.
_____
KREASI (Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia) adalah program peningkatan kualitas pendidikan dengan memperkuat literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. KREASI di Pulau Morotai dikelola Save the Children dan diimplementasi oleh Stimulant Institute, dengan pendanaan Global Partnership for Education (GPE) serta dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dan Mitra Pendidikan Indonesia yang dipimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).
Penulis: Ayutama Putri Jordy | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Ayutama Putri Jordy/KREASI/Stimulant Institute/Save the Children