Artikel opini ditulis oleh Dr. Drs. Gunawan, M. Si., Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Pesisir Barat.
_____
Ada satu cara paling jujur untuk melihat masa depan sebuah daerah: jangan lihat gedungnya, lihatlah anak-anaknya hari ini. Di situlah arah pembangunan sesungguhnya ditentukan—bukan pada apa yang tampak, tetapi pada siapa yang sedang kita siapkan.
Kita sering terpesona oleh capaian fisik pembangunan. Jalan dibuka, gedung berdiri, angka pertumbuhan ekonomi meningkat. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Karena pembangunan yang hanya terlihat di permukaan sering kali menyembunyikan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah manusia di dalamnya ikut tumbuh, atau justru tertinggal?
Al-Qur’an telah memberikan prinsip perubahan yang sangat jelas: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Pesan ini menegaskan bahwa inti pembangunan adalah manusia. Tanpa perubahan kualitas manusia, semua pembangunan fisik akan kehilangan makna.
Pesisir Barat hari ini sebenarnya memiliki arah yang kuat. RPJMD 2025–2029 telah menetapkan visi yang progresif: mewujudkan daerah yang sejahtera, maju, madani, dan religius sebagai destinasi wisata terdepan. Arah itu kemudian dipertegas dalam RKPD 2027 melalui tema akselerasi pembangunan daerah yang berkualitas berbasis potensi lokal.
Secara konseptual, tidak ada yang keliru. Perencanaan sudah berada di jalur yang tepat. Namun realitas pembangunan selalu menguji perencanaan.
Data menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi telah bergerak ke angka yang cukup baik. Indeks Pembangunan Manusia juga mengalami peningkatan. Tetapi pada saat yang sama, kemiskinan masih bertahan, dan kualitas sumber daya manusia belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan masa depan. Ini bukan sekadar angka, tetapi sinyal bahwa pembangunan kita masih menghadapi ketimpangan antara capaian fisik dan kualitas manusia.
Di sektor pendidikan, kontradiksi itu semakin terasa. Harapan lama sekolah sudah meningkat, tetapi rata-rata lama sekolah masih tertinggal. Anak-anak kita masuk sekolah, tetapi belum tentu keluar dengan kemampuan berpikir yang kuat. Mereka hadir dalam sistem, tetapi belum sepenuhnya mendapatkan kualitas pembelajaran yang mereka butuhkan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Pesisir Barat. Dunia menyebutnya sebagai learning crisis—ketika sekolah tidak lagi menjamin terjadinya pembelajaran. Dalam kondisi seperti ini, pembangunan pendidikan tidak bisa lagi hanya berbicara tentang akses. Ia harus berbicara tentang kualitas.
Di sinilah titik kritis pembangunan kita berada. Jika kita terus melanjutkan pendekatan lama, maka pembangunan akan berjalan, tetapi tidak akan mengubah masa depan secara signifikan. Tetapi jika kita berani mengubah fokus—dari fisik ke manusia—maka pembangunan akan memiliki dampak jangka panjang.
Di titik inilah Program KREASI menemukan relevansinya.
KREASI tidak hadir sebagai program tambahan, tetapi sebagai jawaban atas masalah paling mendasar dalam pembangunan sumber daya manusia. Ia tidak sekadar melatih, tetapi membangun sistem. Ia tidak hanya menyentuh guru, tetapi juga kepala sekolah, peserta didik, hingga ekosistem pendidikan secara keseluruhan. Fokusnya jelas: literasi, numerasi, dan karakter—tiga fondasi utama yang menentukan kualitas generasi masa depan.
Pendekatan yang digunakan juga berbeda. KREASI tidak bekerja secara parsial, tetapi melalui penguatan ekosistem. Pemerintah daerah, sekolah, guru, dan masyarakat dilibatkan dalam satu kerangka kolaboratif. Bahkan, program ini dirancang berbasis bukti dan evaluasi berkelanjutan, sehingga tidak berhenti pada kegiatan, tetapi bergerak menuju perubahan sistem.
Di sinilah letak kekuatan strategisnya.
Apa yang dilakukan KREASI sejatinya adalah menerjemahkan RPJMD dan RKPD ke dalam aksi nyata. Ketika dokumen perencanaan berbicara tentang peningkatan kualitas sumber daya manusia, KREASI hadir dengan intervensi konkret di ruang kelas. Ketika RKPD menargetkan peningkatan intelektualitas dan karakter anak, KREASI bekerja langsung pada proses pembelajaran. Ketika pembangunan membutuhkan kolaborasi, KREASI menghadirkan model kerja bersama lintas aktor.
Artinya, KREASI bukan berjalan di luar sistem, tetapi justru memperkuat sistem itu sendiri.
Di tengah berbagai program yang ada, kehadiran program yang tepat sasaran menjadi sangat penting. Pembangunan tidak lagi diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi dari ketepatan intervensi. Dan KREASI berada tepat di titik itu—menyentuh akar masalah, bukan hanya permukaannya.
Negara-negara maju telah membuktikan bahwa investasi pada manusia adalah kunci kemajuan. Finlandia menempatkan kualitas guru sebagai prioritas utama. Jepang membangun karakter sebagai fondasi pendidikan. Korea Selatan menjadikan pendidikan sebagai mesin transformasi ekonomi. Mereka tidak memulai dari gedung, tetapi dari manusia.
Pesan ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). Dalam konteks pembangunan, ilmu bukan hanya jalan spiritual, tetapi juga jalan kemajuan.
Maka pertanyaan mendasar yang harus kita jawab hari ini bukan lagi seberapa banyak yang telah kita bangun, tetapi seberapa tepat kita membangun.
Apakah pembangunan kita sudah menyentuh manusia, atau masih berhenti pada fisik? Karena pada akhirnya, masa depan Pesisir Barat tidak ditentukan oleh apa yang kita bangun hari ini, tetapi oleh siapa yang kita siapkan untuk esok hari.
Jika anak-anak kita kuat, maka daerah ini akan kuat. Jika anak-anak kita cerdas, maka daerah ini akan maju. Tetapi jika anak-anak kita tertinggal, maka semua pembangunan hanya akan menjadi bangunan tanpa masa depan.
Dan di titik itulah kita harus mengambil keputusan: tetap berjalan seperti biasa, atau mulai membangun dengan cara yang benar.
Daftar Referensi: Al-Qur’anul Karim (QS. Ar-Ra’d: 11; QS. Az-Zumar: 9; QS. Al-Ma’idah: 2); Hadits Riwayat Muslim tentang keutamaan menuntut ilmu Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim; World Bank. (2018). World Development Report: Learning to Realize Education’s Promise; OECD. Programme for International Student Assessment (PISA) Reports; RPJMD Kabupaten Pesisir Barat Tahun 2025–2029; RKPD Kabupaten Pesisir Barat Tahun 2027; Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pesisir Barat Potret Pendidikan Kabupaten Pesisir Barat Tahun 2025; dan Dokumen Program KREASI – Save the Children Indonesia.