Upaya memperkuat kepemimpinan pendidikan berbasis bukti terus didorong melalui kegiatan “Diseminasi Praktik Baik dan Penelitian Kepala Sekolah Mitra KREASI di Pesisir Barat” yang dilaksanakan pada 9 Maret 2026 di Pesisir Barat. Kegiatan ini menghadirkan puluhan kepala sekolah mitra program KREASI untuk belajar bersama dari hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh dua kepala sekolah di wilayah tersebut.
Kegiatan ini mendorong kepala sekolah untuk tidak hanya menjalankan manajemen sekolah, tetapi juga melakukan penelitian sederhana berbasis masalah nyata di kelas. Melalui penelitian tersebut, kepala sekolah diharapkan mampu mengambil keputusan yang lebih tepat dan berbasis bukti untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Sebanyak 31 kepala sekolah dari jenjang PAUD, TK, SD, dan madrasah hadir dalam kegiatan ini. Mereka mengikuti rangkaian agenda mulai dari pemaparan proses hingga hasil penelitian, hingga diskusi kelompok terarah (FGD) yang membahas kemungkinan penerapan praktik baik tersebut di sekolah masing-masing.
Penelitian pertama dipresentasikan oleh Lestari, kepala salah satu TK, bersama tim guru yang meneliti tentang peningkatan kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan kolase bahan alam pada siswa kelompok B2.

Penelitian ini berangkat dari temuan bahwa kegiatan pembelajaran di kelas selama ini masih terbatas pada aktivitas menggambar dan mewarnai. Padahal, keterampilan motorik halus anak tidak hanya membutuhkan aktivitas tersebut, tetapi juga kegiatan yang melatih koordinasi tangan dan mata secara lebih kompleks, seperti menempel, menyusun, dan mengolah berbagai bahan.
Dalam penelitian tindakan kelas yang melibatkan 24 anak ini, Lestari dan tim menerapkan kegiatan berkarya kolase menggunakan bahan-bahan alam seperti daun kering dan biji-bijian. Metode penelitian dilakukan melalui dua siklus yang masing-masing terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
Pada siklus pertama, guru mulai memperkenalkan kegiatan kolase kepada anak-anak dengan memberikan contoh sederhana dan bahan-bahan yang telah disiapkan. Anak-anak diminta mengoleskan lem dan menempelkan bahan alam sesuai bentuk gambar yang disediakan. Meskipun sebagian anak masih mengalami kesulitan dalam mengoleskan lem secara merata atau menempelkan bahan dengan rapi, kegiatan ini mulai menunjukkan peningkatan keterlibatan anak dalam proses belajar.
Perbaikan strategi dilakukan pada siklus kedua. Guru memberikan instruksi yang lebih jelas, menyediakan variasi bahan alam, serta memberi kesempatan kepada anak untuk lebih mandiri dalam menyusun karyanya. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.
Persentase anak yang mencapai kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dan Berkembang Sangat Baik (BSB) meningkat dari 50 persen pada siklus pertama menjadi 79 persen pada siklus kedua. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan kolase berbahan alam mampu melatih kemampuan koordinasi mata dan tangan, ketepatan mengoleskan lem, ketelitian menempelkan bahan, hingga kerapian hasil karya anak.
Selain meningkatkan keterampilan motorik halus, kegiatan ini juga mendorong kreativitas serta kemandirian anak dalam menyelesaikan tugas pembelajaran.
Kemudian, penelitian kedua dipresentasikan oleh Hefzon Kurnia, kepala sekolah dari MI, yang meneliti penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) melalui model Project Based Learning (PjBL) untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar matematika, khususnya pada materi pecahan di kelas III A.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya minat belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Pembelajaran yang masih berpusat pada guru membuat siswa cenderung pasif dan kurang tertarik mengikuti proses belajar di kelas.
Melalui penelitian tindakan kelas yang melibatkan 28 siswa, guru menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis proyek yang dipadukan dengan prinsip Kurikulum Berbasis Cinta, yaitu pembelajaran yang menekankan hubungan positif, empati, dan suasana belajar yang menyenangkan.
Dalam praktiknya, siswa tidak hanya mempelajari konsep pecahan melalui penjelasan guru, tetapi juga melalui kegiatan proyek yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, siswa diajak membuat proyek sederhana yang melibatkan pembagian benda atau makanan untuk memahami konsep pecahan secara konkret.
Melalui kegiatan proyek tersebut, siswa bekerja secara kelompok, berdiskusi, mengamati hasil, dan mempresentasikan temuan mereka. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa memahami konsep matematika secara bertahap.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan baik pada aspek minat maupun prestasi belajar siswa. Nilai rata-rata minat belajar meningkat dari 60,36 pada siklus pertama menjadi 88,04 pada siklus kedua. Sementara itu, nilai rata-rata prestasi belajar meningkat dari 52,14 menjadi 80,36, dengan tingkat ketuntasan belajar mencapai 89,29 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek yang dipadukan dengan pendekatan yang lebih humanis mampu membuat siswa lebih aktif, tertarik, dan memahami konsep matematika dengan lebih baik.
Melalui kegiatan diseminasi ini, para kepala sekolah tidak hanya mendengarkan hasil penelitian, tetapi juga berdiskusi mengenai tantangan yang mereka hadapi di sekolah masing-masing. Dalam sesi diskusi kelompok, peserta diajak merefleksikan apakah praktik baik yang dipresentasikan dapat diterapkan atau diadaptasi di lingkungan sekolah mereka.
Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bersama bagi para kepala sekolah untuk saling bertukar pengalaman, gagasan, dan solusi terhadap berbagai persoalan pembelajaran di sekolah.
Melalui pendekatan penelitian sederhana seperti ini, program KREASI berharap semakin banyak kepala sekolah yang mampu mengembangkan praktik pembelajaran yang efektif dan berbasis bukti, sehingga kualitas pendidikan di Kabupaten Pesisir Barat dapat meningkat secara lebih merata dan berkelanjutan.

_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI Pesisir Barat dijalankan oleh Save the Children bersama Yayasan Guru Belajar dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____
Penulis: Michelle Gabriela | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Michelle Gabriela/KREASI/Yayasan Guru Belajar/Save the Children