Skip to content Skip to footer

Mia dan Pantai Nias Utara yang Menginspirasi Pembelajaran

Sinyal jaringan internet nyaris tak pernah datang di kampung tempat ia tinggal. Tiap kali ingin mencari bahan ajar atau menyiapkan tugas sebagai seorang guru, Asmia Halawa — atau yang akrab disapa Mia — harus pergi sekitar seribu meter menuju tepi pantai. Di sana, di antara suara ombak, anak-anak yang bermain air, dan sesekali pekik sumbang dari pengeras suara karaoke pengunjung, ia membuka laptop dan mengamati ikon jaringan internet muncul. Kadang berhasil, kadang tidak. Tapi ia tetap duduk, menatap layar yang berpendar samar oleh terik cahaya matahari, mencatat ide kecil untuk pelajaran, sesekali dia menyadari dari layar pantulan wajahnya yang nampak letih dan menunggu.

Di pantai itu, yang kerap orang-orang bandingkan dengan laut mati di Jordan karena kadar garam yang tinggi–jadi semacam ruang kerja sekaligus tempatnya menenangkan diri. Mia adalah guru di salah satu madrasah ibtidaiyah di Nias Utara, sekaligus juga orang tua tunggal bagi dua anaknya.

Siang hari mengajar, malam membantu anaknya belajar. Hidupnya sederhana, tapi tidak pernah betul-betul tenang. Ada rasa cemas tertinggal—cemas merangkai metode belajar dari bahan-bahan yang sering kali tak lengkap, dan rasa ketertinggalan oleh banyak hal.

Sebelum mengikuti pelatihan dari Program KREASI, Mia mengajar seperti yang ia pelajari dari guru-guru sebelumnya: menyalin isi buku teks, menyuruh anak-anak menulis di papan tulis, memberi tugas, lalu menunggu hasilnya.

“Anak-anak sering pasif,” kenangnya. “Kalau saya tanya, hening. Saya pikir mereka malas.” Kadang ia merasa lelah, karena apa pun yang diajarkan seolah tak menempel. “Saya sempat berpikir, mungkin saya bukan guru yang baik,” katanya pelan dengan jeda tarikan nafas yang berusaha disamarkan.

Sebuah kabar datang beberapa bulan lalu, ketika Mia dipanggil mengikuti pelatihan di Lotu. Saat tahu pesertanya hanya dua belas orang, ia hampir mundur.

“Saya? Serius? Ilmu saya masih kurang, ngomong aja belum lancar,” katanya sambil tertawa canggung menutupi rasa tidak percaya diri.

Namun hari-hari di Lotu mengubah cara pandangnya: bahwa belajar tidak selalu datang dari buku, dan mengajar tidak berarti harus selalu duduk di depan kelas. Dari pelatihan itu, ia belajar tentang pembelajaran yang hidup — tentang bermain, berdialog, dan membuat anak-anak menjadi bagian dari proses, bukan sekadar pendengar.

Sepulang dari pelatihan, ia mencoba menerapkannya di kelas. Awalnya tidak yakin, tapi ia mulai dari hal kecil: mengajak anak-anak keluar ruangan, memungut daun, mengenalkan numerasi dari benda sekitar, dan cerita tentang hari-hari yang sederhana. “Saya baru sadar,” katanya, “penyebab anak-anak tidak paham bukan karena mereka malas, tapi karena saya yang belum dapat menyentuh cara mereka memahami dunia.”

Kesadaran itu pun diuji ketika ia berhadapan dengan Sahrul, murid kelas dua yang terkenal sulit diatur. Anak itu jarang duduk diam, sering mengganggu teman, dan enggan menulis. Mia sempat frustasi, bahkan setengah putus asa. Tapi suatu hari, ia menolak pasrah dan mencoba pendekatan lain — bukan dengan memarahi, tapi dengan selalu menyapanya dengan tulus setiap hari, serta memberinya peran kecil. Setiap pagi, Sahrul diminta memimpin menata tempat belajar, dan membagikan alat tulis untuk teman-temannya.

“Pelan-pelan dia berubah,” kenang Mia. “Belum lancar membaca, tapi dia mulai mau mendengar, mulai mau mencoba.”

Suatu pagi, ketika pelajaran berlangsung, Mia membawa anak-anak keluar kelas. Mereka diajak berjalan ke halaman sekolah dan menerapkan pelajaran bahasa inggris dasar, seperti menyusun huruf nama-nama hewan menggunakan pasir, botol bekas warna-warni, biji-bijian dan lain sebagainya. Anak-anak berebut dan masuk ke dunia petualangannya masing-masing.

Sejak itu, Mia sering mengaitkan pelajaran dengan hal-hal di sekitar mereka. “Saya ingin anak-anak belajar lewat panca indera mereka sendiri,” katanya. “Karena bagi mereka, dunia dimulai dari apa yang bisa disentuh dan dirasa.”

Beberapa tahun lalu, suasana belajar di kelas masih kurang ideal. Kepala sekolahnya, Ahmad Nasir, mengenang bagaimana situasi belajar di madrasah itu beberapa tahun lalu terasa berjarak.

“Guru-guru kita waktu itu masih belum paham betul bagaimana proses pembelajaran yang baik,” katanya. “Pelajaran diberikan apa adanya, mengikuti buku dan modul tanpa banyak ruang untuk eksplorasi.”

Ia melihat pergeseran setelah guru-guru, termasuk Mia, ikut pelatihan yang memperkenalkan pendekatan kreatif dan partisipatif. “Sekarang guru bisa menjadikan siswa sebagai teman belajar. Mereka tidak hanya menerima, tapi ikut memahami dan mengalami pembelajaran itu,” jelasnya. Bagi Nasir, perubahan semacam ini bukan hal kecil. “Inovasi itu penting,” lanjutnya, “karena kalau guru tidak meng-update dirinya, maka murid juga akan terperangkap di tempat yang sama.”

Di ruang kelas yang berbeda itu terasa lewat cara Mia mengajar. Anak-anak kerap berebut ingin berpartisipasi dalam setiap sesi belajarnya, kadang terdengar suara-suara menirukan bunyi hewan, kadang papan tulisnya dipenuhi tempelan gambar dari hasil interaksi. Kelasnya tidak selalu rapi, tapi selalu hidup.

Ia menyadari, kreativitas bukan kemewahan — melainkan bentuk bertahan di tengah hal yang serba terbatas dan kurang. “Kalau cuma tunggu bahan dari kota, bisa-bisa enggak ngajar. Jadi saya buat saja sendiri,” ujarnya. Di dinding ruang tergantung kertas lipatan origami, roda warna dari tutup botol, peta buatan tangan. Semua itu hasil dari waktu-waktu ia berdiam di tepi pantai, menunggu sinyal sambil memikirkan bagaimana membuat belajar terasa dekat dengan kehidupan anak-anak.

Kepala sekolah menegaskan bahwa madrasah terus berupaya mendukung langkah semacam itu. “Kami bantu bukan hanya dari dana, tapi juga dari ruang berpikir,” ujar Nasir. Ia menyebut adanya rencana membentuk kelompok belajar guru agar mereka bisa saling berbagi inovasi. “Kalau satu guru bisa membuat sesuatu yang segar, kita gabungkan mereka. Biar ilmu itu tidak berhenti di satu kelas.”

Bagi Mia, dukungan itu membuat langkahnya terasa lebih ringan. Tapi ia tahu tidak ada keyakinan yang teruji tanpa ditempa waktu dan keadaan. Sedangkan menjadi guru di wilayah seperti Lahewa berarti harus menjinakkan banyak hal: akses terbatas, jarak yang jauh, sinyal yang hilang-hilang, dan kadang rasa sepi yang menggigit. Namun ia jarang menyebutnya sebagai kesulitan. “Kalau anak-anak datang dan senyum, hilang semua capeknya,” suaranya pelan beradu dengan baling-baling kipas mengusir hawa panas siang itu.

Ketika ditanya apa yang membuatnya tetap bertahan, jawabannya sederhana: “Saya ingin anak-anak tahu, dunia itu luas. Tapi untuk menjelajahi ke sana, mereka harus mulai dulu dari sini–belajar.”

Malam hari, setelah anaknya tertidur, Mia kembali membuka laptop di meja kecil dekat jendela. Cahaya layar memantul di wajahnya. Di luar, suara jangkrik bercampur dengan desir angin laut yang datang jauh dari pantai — tempat ia biasanya duduk mencari sinyal. Di layar, terbuka rancangan pembelajaran esok pagi: tentang cara tumbuhan tumbuh di pasir pantai.

“Kadang saya tulis idenya di situ saja,” tunjuknya dengan menoleh ke layar kosong. “Besok tinggal saya ubah jadi kegiatan buat anak-anak.”

Dari luar, yang berubah dari sekolah ini mungkin tampak sederhana: suasana kelas yang lebih ramai, papan tulis yang lebih berwarna, dan guru-guru yang mulai berbagi ide tanpa diminta. Tapi di balik itu, ada perubahan yang lebih halus — cara mereka memandang anak didik, dan cara mereka memandang diri sendiri sebagai pendidik. Pengimbasan yang dilakukan Mia bukan tentang metode, melainkan tentang keberanian untuk mencoba keluar dari dogma kebiasaan. Bukankah perubahan besar kadang lahir dari hal yang paling sepi: seorang guru yang terus belajar ketika yang lain berhenti, dan tak pernah merasa cukup?

_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI dijalankan oleh Save the Children bersama Article 33 Indonesia dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Nias Utara. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Nias Utara dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa. 
_____
Penulis: Adzwari Ridzki | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Adzwari Ridzki/KREASI/Article 33 Indonesia/Save the Children