Skip to content Skip to footer

Jejak KREASI Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ekosistem Pendidikan Aman dan Setara  

KREASI kembali adakan gelar wicara bertajuk Jejak KREASI: Sinergi Pemuda, Mitra Pembangunan, dan Pemerintah untuk Ekosistem Aman dan Setara yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom dan YouTube Live pada Senin (13/10/2025). Kegiatan ini menjadi ruang temu lintas sektor antarpemerintah, organisasi masyarakat sipil, pemuda, dan tenaga kependidikan dalam diskusi tentang perlindungan anak, inklusi, dan partisipasi bermakna. 

Acara ini menghadirkan empat panelis dari latar belakang beragam: Plt. Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA RI, Ratna Susianawati; Manajer Program Stimulant Institute (Mitra KREASI Morotai), Yenny Djelalu; Disabilitas Konten Kreator & Peneliti AIDRAN, Elo Kusuma Mandeville; dan anggota Children and Youth Advisory Network (CYAN), Ridwan. 

Dalam paparannya, Ridwan menyoroti pentingnya pelibatan anak yang bermakna dan bukan sekadar simbolis. Ia menekankan bahwa partisipasi anak dalam isu sosial harus ditopang dengan literasi, aksi nyata, dan advokasi kebijakan. Sementara itu, Elo dari AIDRAN menambahkan bahwa ruang aman juga harus ramah disabilitas, “bagaimana kelompok disabilitas bisa berkembang jika pintu kesempatan tidak dibuka sejak awal?” ungkapnya.   

Yenny kemudian menyampaikan praktik baik pelibatan masyarakat dan sekolah melalui gerakan Tong Baku Jaga yang menekankan peran semua pihak dalam menjaga anak. Melalui kerja sama dengan TPPK Sekolah dan PATBM Desa, Morotai menginisiasi berbagai kebijakan perlindungan anak, termasuk di madrasah.  

Sementara itu, Ratna Susianawati menegaskan komitmen pemerintah dalam membangun perlindungan anak yang komprehensif. Ia memaparkan berbagai kebijakan seperti Perpres 78/2021 dan Peta Jalan Perlindungan Anak di Ranah Daring. “Kunci perlindungan anak adalah kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan,” tegasnya.  

Acara yang dihadiri lebih dari 130 peserta ini berjalan interaktif. Sejumlah pertanyaan kritis muncul, mulai dari bagaimana mencegah perundungan secara nyata, memastikan ruang aman tidak hanya simbolik, hingga strategi mendukung anak disabilitas agar percaya diri.
_____

Penulis: Nabila Aulia, Andika Ramadhan | Penyunting: Laras Sabila Putri