Program KREASI memulai Jejak KREASI, sebuah seri gelar wicara yang membahas berbagai isu pendidikan. Pada Jejak KREASI pertama, mengangkat tema “Dari Desa ke Kota, Menyalakan Cahaya Literasi” diselenggarakan pada Senin (15/9/2025) lalu secara daring.
Berdasarkan hasil PISA 2024, Indonesia menempati peringkat 70 dari 80 negara. Salah satu faktor utama yang menyebabkan rendahnya capaian tersebut adalah terbatasnya akses terhadap buku bacaan, terutama di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Sejumlah inisiatif lokal sebenarnya sudah hadir, seperti perpustakaan keliling di Morotai, taman baca komunitas di Lampung, dan program literasi desa di Padang, Ketapang, Kalimantan Barat. Namun, tantangan masih besar. Budaya membaca belum terbentuk secara merata, ketersediaan buku anak masih terbatas, dan dukungan orang dewasa dalam membimbing anak membaca masih perlu diperkuat.
Dalam forum diskusi ini, berbagai pemangku kepentingan menyampaikan pandangan dan pengalaman mereka.
Kepala Desa Padang di Ketapang, Kalimantan Barat, Marwansyah, menceritakan bagaimana desanya bertransformasi menjadi Kampung Literasi dengan dukungan KREASI. Lima titik taman baca dibentuk dan sekolah-sekolah diwajibkan mengadakan kegiatan membaca sebagai bagian dari ekstrakurikuler.
“Kami membentuk lima titik taman baca dan mewajibkan kegiatan membaca melalui program ekstrakurikuler sekolah. Namun kami berharap dukungan pemerintah agar gerakan ini berkelanjutan, dan buku yang hadir tidak hanya untuk anak, tetapi juga untuk orang tua, misalnya terkait pertanian, UMKM, dan perikanan,” ujarnya.
Menurut Ketua Pokja Kampung Literasi Desa Padang. Deki Triadi, Pokja lahir dari tindak lanjut Program KREASI yang menetapkan Desa Padang sebagai desa percontohan. Kini, gerakan tersebut menyebar melalui pojok baca di lima dusun, pelatihan relawan pengelola taman baca, serta kebijakan desa berupa surat edaran wajib membaca.
“Jangan hanya bergantung pada bantuan luar, tapi harus mandiri dan berkelanjutan. Target kami, Kampung Literasi berkembang ke seluruh 20 kecamatan dan 253 desa hingga menjadi Kabupaten Literasi,” tegasnya.
Selain peran pemerintah desa, kontribusi mitra pendidikan juga sangat penting. Manajer Program ProVisi Room to Read, Sabrina E. Sarmili, menegaskan bahwa penyediaan buku tidak cukup tanpa pendampingan dari orang dewasa. Room to Read, yang sudah mendukung literasi di Indonesia selama 11 tahun, menyediakan buku anak berkualitas, kontekstual, dan ramah anak ke berbagai sekolah, termasuk di daerah 3T.
“Selama 11 tahun kami mendukung literasi dengan menyediakan buku anak yang berkualitas dan kontekstual. Namun ketersediaan buku saja tidak cukup—peran guru dan orang dewasa sangat krusial agar buku benar-benar digunakan,” jelasnya.
Dari sisi pemerintah pusat, Kepala Pusat Perbukuan Kemendikdasmen, Supriyatno, memaparkan sejumlah program strategis untuk mendukung ekosistem literasi nasional. Salah satunya adalah platform SIBI, yang menyediakan ribuan buku digital dalam bentuk PDF, audio, dan interaktif, disusun berdasarkan level kemampuan membaca anak. Program lain adalah kurasi penulis lokal, untuk mendorong lahirnya buku-buku cerita rakyat dari daerah.
“Literasi hanya bisa berkembang jika pemerintah, komunitas, dan pegiat lokal bahu-membahu. Buku juga harus lahir dari konteks lokal agar lebih dekat dengan anak,” ujarnya.
Acara ini menegaskan bahwa literasi tidak bisa dibangun oleh satu pihak. Pemerintah, komunitas, mitra lokal, dan organisasi masyarakat perlu berkolaborasi erat. Program KREASI menjadi katalis penting, baik dalam membangun kesadaran masyarakat, melahirkan kebijakan desa yang berpihak pada literasi, maupun mendorong partisipasi sekolah dan orang tua.
_____
Penulis: Andika Ramadhan