Sejak 2018, Rahayu resmi bertugas di Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. Ia datang dari Ambon, Provinsi Maluku (berjarak 600 km dari Tobelo) berdasarkan surat tugas yang menempatkannya di salah satu SD di Tobelo. Setahun kemudian, pada 2019, penempatan itu diperkuat dengan SK definitif dari Bupati Halmahera Utara.
Namun perjalanan belum berhenti di sana. Tahun 2022, ia dipindahkan ke salah satu SD inpres selama sembilan bulan, sebelum kembali ditugaskan ke SD di Tobelo.
“Perjalanan saya berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain memang cukup panjang,” kenang Rahayu.
“Tapi di setiap sekolah saya belajar banyak, dan semuanya menguatkan saya sebagai seorang guru,” sambungnya.
Awalnya Bingung, Kini Jadi Mitra
Ketika kali pertama mendengar tentang Program KREASI, Rahayu mengaku sempat bingung.
“Saya masih bertanya-tanya, KREASI ini sebenarnya apa? Akronimnya saja belum jelas waktu itu. Tapi setelah mendengar lebih lanjut, ternyata KREASI adalah kolaborasi untuk pengembangan pendidikan, khususnya di Halmahera Utara. Dari situ saya sadar, ada mitra yang mau berjalan bersama kami para guru,” ujarnya.
Bagi Rahayu, program ini menjadi titik balik. Sebelum mengenal KREASI, metode mengajarnya masih konvensional. Mengajar berarti menyampaikan materi sesuai buku paket, dengan metode ceramah dan sedikit diskusi. Namun, ia melihat anak-anak sering kesulitan berpikir kritis. Bahkan, pelajaran matematika kerap jadi momok.
“Dulu kalau jam matematika, banyak anak tiba-tiba mengeluh sakit atau mencari alasan untuk tidak belajar. Saya merasa metode yang saya gunakan belum membuat mereka nyaman,” ungkapnya.
Numerasi yang Membuka Mata
Ketika Rahayu mulai mengikuti pelatihan bersama fasilitator KREASI, ia mulai memahami bahwa matematika bukan sekadar angka dan rumus, tetapi bagaimana anak-anak mampu menghubungkan konsep itu dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satu pengalaman berkesan adalah ketika ia menerapkan metode “menghitung dengan sistem kawan”. Saat itu, anak-anak justru lebih antusias.
Mereka bilang, ‘Ibu, ternyata kalau pakai cara ini cepat sekali ya!’ Saya terharu melihat mereka yang biasanya enggan, kini justru meminta tambah soal,” ceritanya sambil tersenyum.
Ia juga merasakan perubahan dalam mengajarkan konsep perkalian. Sebelumnya, anak-anak hanya menghafal, tanpa benar-benar memahami. Dengan metode yang ia dapatkan dari KREASI, ia menggunakan media konkret. Anak-anak menempel butir-butir benda untuk memahami nilai tempat, dari satuan, puluhan, hingga ratusan.
“Belajar jadi menyenangkan sekaligus bermakna. Mereka tidak hanya bermain, tapi benar-benar memahami konsep,” ujarnya.

Sentuhan pada Anak yang Tertinggal
Ada satu momen yang sangat membekas. Rahayu memiliki seorang siswa dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Sebelumnya, ia sering merasa putus asa.
“Sebagai manusia, kadang saya berpikir, kenapa anak ini tidak bisa sementara teman-temannya bisa? Tapi saya sadar, mungkin caranya yang belum tepat,” katanya lirih.
Setelah mengikuti KREASI, ia mencoba metode mentoring sebaya. Ia meminta salah satu teman yang sudah paham untuk mendampingi anak tersebut, sementara ia memfasilitasi. Perlahan, anak itu mulai memahami.
“Saya sampai merinding. Anak yang sebelumnya tidak bisa, ternyata bisa kalau diberi pendekatan yang sesuai. Itu pelajaran besar bagi saya,” ungkapnya.
Menjadi Fasilitator, Bukan Sekadar Guru
Kini, Rahayu tidak lagi menempatkan dirinya sebagai sosok yang serba tahu. Ia lebih memilih menjadi fasilitator, mitra belajar bagi murid-muridnya.
“Saya ingin mereka merasa bebas mengemukakan pendapat tanpa takut salah. Kalau ada kesulitan, saya tidak langsung memberi jawaban, tapi memancing dengan pertanyaan agar mereka menemukan solusi sendiri,” jelasnya.
Bagi Rahayu, perubahan mindset itu adalah hadiah terbesar dari KREASI.
“Saya sadar, mengajar bukan soal membuat anak hafal, tapi bagaimana mereka memahami dan mengaitkan dengan hidup mereka sehari-hari,” katanya.
Pesan untuk Sesama Guru
Rahayu berharap lebih banyak guru bisa bermitra dengan KREASI. “Bagi saya, KREASI adalah partner yang sangat menolong. Tidak hanya mengubah cara mengajar, tapi juga mengubah diri saya sebagai pribadi. Saya jadi lebih sabar, lebih reflektif, dan lebih kreatif dalam mendampingi anak-anak,” ujarnya.
Ia juga berpesan, khususnya bagi guru di Halmahera Utara yang memiliki tantangan karakteristik siswa beragam, bahwa KREASI bisa menjadi jembatan.
“Program ini memberi banyak manfaat. Kalau kita benar-benar mau membuka diri, pasti ada perubahan,” tegasnya.
Harapan ke Depan
“Saya berharap program ini terus berkembang, terutama untuk peningkatan kapasitas guru. Literasi dan numerasi sudah berjalan baik, tapi ke depan perlu ada program lain yang sejalan dengan kebijakan pusat, agar pendidikan di Halmahera Utara makin maju,” tuturnya.
Dari perjalanan panjangnya, satu hal yang pasti: bagi Rahayu Leimena, menjadi guru bukan sekadar profesi, tapi sebuah panggilan hati. Dan bersama KREASI, ia menemukan cara baru untuk mengabdi lebih menyenangkan, lebih bermakna, dan tentu saja lebih berdampak bagi masa depan anak-anak di Halmahera Utara.
_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education (GPE), dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dan Kementerian Agama (Kemenag). KREASI dijalankan oleh Save the Children bersama Wahana Visi Indonesia dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Halmahera Utara dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____
Penulis: Samsudin A.S Kuylo; Editor: Andika Ramadhan
Foto: Samsudin A.S Kuylo/KREASI/Wahana Visi Indonesia/Save the Children