Skip to content Skip to footer

KREASI Ketapang Gelar 3 Hari Pelatihan Pembelajaran Mendalam 

Sebanyak 63 guru TK dan RA dari berbagai kecamatan di Kabupaten Ketapang mengikuti pelatihan intensif selama tiga hari bertajuk “Praktik Pembelajaran Mendalam sebagai Strategi untuk Mewujudkan Pendidikan yang Bermutu, Inklusif, dan Berkeadilan.” Kegiatan ini berlangsung pada 12–14 Agustus 2025 yang diselenggarakan oleh KREASI Ketapang. 

Pelatihan ini menghadirkan sejumlah narasumber nasional yang menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam pendidikan anak usia dini. Diantaranya adalah dua akademisi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Jakarta, Abdul Rahman Jupri dan Gufron Amirullah, yang menyampaikan bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar pendekatan baru, melainkan cara memuliakan anak dalam proses belajar. 

“Kita tidak sedang mengganti kurikulum, tapi mengubah cara kita memandang anak. Pembelajaran mendalam adalah upaya untuk menjadikan anak sebagai subjek yang aktif, sadar, dan bermakna dalam proses belajarnya,” ujar Jupri dalam sesi pembukaan. 

Salah satu materi utama adalah penguatan growth mindset bagi guru. Menurut Gufron, guru perlu meninggalkan pola pikir tetap dan mulai melihat potensi anak sebagai sesuatu yang bisa tumbuh dan berkembang. 

“Guru yang memiliki pola pikir bertumbuh akan lebih terbuka terhadap refleksi, perubahan, dan inovasi. Ia tidak takut gagal, karena kegagalan adalah bagian dari proses belajar,” jelasnya. 

Materi dilanjutkan dengan pengenalan prinsip Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan (BBM) yang menjadi pondasi pembelajaran mendalam. Jupri menekankan bahwa pembelajaran yang menggembirakan bukan berarti sekadar menyenangkan, tetapi mampu membangkitkan rasa ingin tahu anak. 

“Gembira itu bukan hiburan. Gembira dalam pembelajaran adalah ketika anak merasa tertantang, terlibat, dan menemukan makna dari apa yang ia pelajari,” katanya. 

Peserta juga diajak memahami delapan dimensi profil lulusan, seperti beriman dan bertakwa, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Pendekatan ini dikaitkan dengan empat olah: pikir, hati, rasa, dan raga. 

“Empat olah ini bukan teori kosong. Ia menjadi jembatan antara kompetensi dan karakter. Anak tidak hanya tahu, tapi juga merasa, peduli, dan mampu bertindak,” terang Jupri. 

Dalam sesi asesmen berkeadilan, peserta belajar menyusun instrumen yang tidak hanya mengukur hasil, tetapi juga proses dan refleksi anak. Guru dilatih membuat asesmen formatif yang bersifat dialogis dan mendukung tumbuh kembang anak secara holistik.  

“Asesmen bukan untuk menghakimi, tapi untuk memahami. Kita perlu melihat anak sebagai manusia utuh, bukan angka di laporan,” tegas Jupri. 

Pelatihan ditutup dengan refleksi bersama dan komitmen untuk mengimbaskan praktik pembelajaran mendalam ke sekolah masing-masing. Program Koordinator KREASI Ketapang, Santoso Setio, menyampaikan harapan agar guru menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. 

“Ketapang bukan hanya titik intervensi, tapi titik nyala. Guru-guru di sini telah menunjukkan bahwa transformasi pendidikan bisa dimulai dari ruang kelas yang sederhana,” ujarnya. 

Sebagai tindak lanjut, peserta akan mengimplementasikan RPP yang telah disusun, mendokumentasikan praktik pembelajaran, dan berbagi refleksi bersama guru sejawat. Ketapang telah memulai langkah besar menuju pendidikan yang lebih bermakna dan berkeadilan. 


Penulis: Afriyandi Huda, Editor: Andika Ramadhan 
Foto: Afriyandi Huda/KREASI/Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah/Save the Children