Ratih, seorang guru Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, punya semangat untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Ratih terpanggil untuk turut serta menjawab tantangan rendahnya tingkat literasi dan numerasi siswa. Isu yang tak hanya terlihat dalam rapor pendidikan nasional, tetapi juga diperkuat oleh penilaian global lewat PISA.
Kesempatan itu datang ketika sekolahnya ditetapkan sebagai salah satu target intervensi program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia di Morotai. Ia antusias mengikuti rangkaian pelatihan peningkatan kapasitas guru, termasuk pengimbasan dari master teacher serta pelatihan mentor untuk klub literasi dan numerasi.
Dari pelatihan tersebut, Ratih menyadari bahwa pemahamannya selama ini mengenai literasi masih terbatas.
“Saya kira literasi hanya sebatas kemampuan membaca buku, ternyata lebih dari itu. Literasi adalah kemampuan menggali informasi dari bacaan dan memahami makna di balik kata-kata yang dibaca,” kata Ratih.
Sebelum memahami hal ini, Ratih kerap bingung bagaimana cara mengatasi kesulitan siswa dalam memahami bacaan. Namun setelah mendapat pembekalan dari master teacher, ia menemukan caranya.
“Anak-anak harus diajak mengenal huruf terlebih dahulu, baru kemudian kata, lalu kalimat. Tanpa mengenal huruf, mereka tidak akan bisa membaca atau memahami kata,” ungkapnya.
Tak hanya literasi, pandangan Ratih terhadap numerasi juga berubah drastis.
“Saya sebenarnya tidak terlalu suka matematika. Tapi setelah mengikuti pelatihan numerasi, saya jadi lebih menyukai numerasi daripada literasi,” ungkapnya sambil tersenyum.
Ia menyadari bahwa numerasi bukan hanya soal hitungan matematika, tapi juga mencakup pemahaman konsep dasar angka dan logika berpikir.
Salah satu momen paling berkesan baginya adalah ketika belajar menggunakan sampah sedotan bekas untuk mengajarkan konsep bangun datar dan geometri kepada siswa.
“Ternyata mengajarkan numerasi bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan sekaligus menanamkan kesadaran lingkungan. Anak-anak belajar sambil bermain, sambil belajar memanfaatkan kembali barang bekas,” jelas Ratih antusias.
Ratih merasa pelatihan yang diberikan oleh KREASI sangat bermanfaat, karena tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga mengedepankan praktik langsung di lapangan.
“Saya jadi tahu bahwa belajar bisa menyenangkan. Saya ingin siswa-siswa saya tidak bosan belajar, dan bisa lebih tertarik pada literasi dan numerasi,” harapnya.
Setelah mengikuti beberapa kegiatan peningkatan kapasitas mentor, Ratih merasa lebih percaya diri untuk menerapkan ilmunya di kelas.
“Kami siap menerapkan pembelajaran literasi dan numerasi yang lebih efektif, terutama untuk siswa yang masih mengalami kesulitan,” katanya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada KREASI yang dijalankan oleh Save the Children dan mitra pelaksana Stimulant Institute di Morotai.
“Melalui program ini, kami tidak hanya mendapat ilmu, tapi juga bisa saling berbagi pengalaman dan menjalin kolaborasi dengan guru-guru dari sekolah lain di Morotai,” tutup Ratih. Semangat Ratih adalah cerminan semangat guru muda di seluruh Indonesia: tak pernah lelah belajar, tumbuh, dan menjadi cahaya bagi generasi penerus bangsa.
Penulis: Ayutama (Communication Officer Stimulant Institute)
Penyunting: Andika Ramadhan (Communication & Media Support KREASI)