Skip to content Skip to footer

Menjaga Bumi, Dimulai dari Ruang Kelas

Setiap 22 April, dunia berhenti sejenak untuk merayakan Hari Bumi. Tapi lebih dari sekadar seremoni, ini adalah undangan untuk merenung, melihat ke sekitar kita, dan bertanya dalam hati: apa yang sudah kita lakukan untuk satu-satunya rumah yang kita miliki bersama ini?

Kini, bayangkan jika langkah menyelamatkan bumi itu…dimulai dari ruang kelas.

Mengapa Isu Iklim Harus Hadir di Buku Pelajaran?

Perubahan iklim bukan lagi bayangan masa depan. Ia sudah hadir di tengah-tengah kita. Cuaca yang semakin sulit ditebak. Musim hujan yang datang lebih panjang. Banjir yang menghentikan kegiatan belajar. Ini adalah kenyataan yang dialami banyak anak di Indonesia hari ini.

Di tengah semua itu, anak-anak tetap duduk di bangku sekolah, menggenggam harapan. Mereka tidak hanya perlu tahu tentang perubahan iklim, mereka harus memahami bagaimana menjadi bagian dari solusinya. Dan kabar baiknya, peluang itu sudah ada.

Melalui Kurikulum Merdeka, topik seperti lingkungan dan iklim bisa diintegrasikan dalam pembelajaran, lewat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Namun, di lapangan, tak sedikit guru yang masih bertanya-tanya: harus mulai dari mana?

Ketika Semangat Bertemu Tantangan

Laporan dari Save the Children dan PSPK (2024) menunjukkan bahwa semangat itu nyata. Di Tanggamus, Pesisir Barat, hingga Morotai, guru-guru menyisipkan isu lingkungan lewat aksi sederhana namun bermakna; menanam pohon, memilah sampah, memanfaatkan barang bekas. Semua dilakukan dengan cinta dan kepedulian.

Namun, langkah-langkah ini masih berjalan sendiri-sendiri. Masih banyak guru yang belum mendapat pelatihan, belum memiliki sumber belajar yang memadai. Beberapa masih menganggap pendidikan iklim sebagai kegiatan tambahan, bukan bagian dari pelajaran inti.

Padahal, api semangat itu sudah menyala. Yang dibutuhkan kini adalah bahan bakar: dukungan dan kolaborasi.

KREASI: Menyatukan Harapan dan Aksi

Program Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia (KREASI) hadir sebagai jembatan antara harapan dan kenyataan. Dijalankan oleh Save the Children Indonesia dan didukung oleh Global Partnership for Education (GPE), program ini menyasar delapan kabupaten di Indonesia, termasuk wilayah dengan tantangan geografis dan keterbatasan akses.

Salah satu fokus utamanya: mengintegrasikan pendidikan perubahan iklim sejak usia dini, dari PAUD hingga sekolah dasar.

Program ini tidak hanya bicara soal kurikulum. KREASI mendorong pelatihan guru, penguatan kepemimpinan sekolah, serta sistem perlindungan anak yang inklusif dan berkeadilan gender.

Guru juga didorong untuk memanfaatkan PMM/PINTAR dan P5, menjalankan asesmen formatif, dan mengintegrasikan pendidikan iklim dalam kegiatan belajar-mengajar secara kontekstual.

Karena ketika perubahan iklim diajarkan dengan cara yang membumi, anak-anak tidak hanya belajar. Mereka tergerak.

Apa yang Bisa Kita Lakukan Bersama?

Perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil.

  1. Masukkan isu iklim dalam cerita sehari-hari. Mulai dari dongeng tentang hewan yang kehilangan habitat, hingga eksperimen kecil tentang cuaca ekstrem bisa membuka pintu kesadaran lingkungan.
  2. Jadikan anak sebagai agen perubahan. Ajak mereka mengamati lingkungan sekitar, membuat proyek daur ulang, atau kampanye hemat listrik di rumah.
  3. Bantu guru untuk terus belajar. Pelatihan komunitas atau platform daring seperti PMM bisa jadi ruang tumbuh bersama untuk memperkuat literasi iklim.
  4. Bangun kolaborasi yang hidup. Sekolah bisa bermitra dengan dinas lingkungan, taman nasional, atau komunitas lokal, agar pembelajaran terasa nyata dan bermakna.

Menanam Kesadaran, Menuai Harapan

Menjaga bumi bukan hanya soal menanam pohon. Tapi juga menanamkan rasa memiliki. Rasa cinta. Rasa tanggung jawab pada generasi yang akan mewarisinya.

Dan salah satu tempat terbaik untuk itu… adalah ruang kelas.

Di sana, anak-anak menulis cerita mereka. Menggambar dunia impian mereka. Dan dari sanalah, benih kesadaran bisa tumbuh menjadi aksi nyata.

Hari Bumi ini, mari kita pastikan pendidikan perubahan iklim tak hanya jadi wacana. Tapi benar-benar hidup dalam setiap cerita, setiap pelajaran, dan setiap hati anak-anak Indonesia.