Save the Children menyelenggarakan kegiatan Diseminasi Hasil Studi Awal (Baseline) Program KREASI untuk memaparkan temuan awal mengenai kondisi pembelajaran dasar di berbagai daerah sasaran program. Kegiatan yang berlangsung secara hibrida di Jakarta Selatan ini menghadirkan perwakilan pemerintah pusat dan daerah, organisasi mitra pembangunan, lembaga penelitian, serta mitra pelaksana lokal.
Diseminasi ini bertujuan menyampaikan temuan kunci studi yang dilakukan oleh Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) kepada para pemangku kepentingan pendidikan sekaligus membuka ruang diskusi untuk memperkaya analisis, mengkaji relevansi temuan dengan kondisi lapangan, serta merumuskan arah tindak lanjut program. Hasil diskusi diharapkan dapat mendukung penetapan target dan strategi implementasi Program KREASI, khususnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran literasi, numerasi, dan karakter siswa secara lebih inklusif dan adaptif.
Studi awal Program KREASI dilakukan pada 248 sekolah di delapan kabupaten dengan melibatkan sekitar 5.770 responden yang terdiri dari siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, dan pemangku kepentingan lokal. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method melalui survei, observasi kelas, analisis dokumen kebijakan, serta diskusi kelompok terarah.
Kajian ini memotret kondisi pembelajaran melalui empat fokus utama, yaitu kurikulum dan asesmen, praktik pengajaran, kepemimpinan kepala sekolah, serta sistem perlindungan anak di sekolah. Selain itu, studi juga mempertimbangkan faktor kontekstual yang memengaruhi kualitas pembelajaran, seperti kesenjangan sosial ekonomi, gender, disabilitas, dan tantangan perubahan iklim.

Temuan Awal: Tantangan Sejak Pendidikan Anak Usia Dini
Salah satu temuan penting dari studi ini adalah masih terbatasnya akses pendidikan anak usia dini. Sebanyak 22,1 persen siswa kelas awal sekolah dasar belum pernah mengikuti PAUD sebelum masuk SD. Kondisi ini berdampak pada kesiapan belajar anak, terutama pada aspek literasi awal dan fungsi eksekutif yang menjadi fondasi pembelajaran di jenjang berikutnya.
Selain itu, studi juga menunjukkan adanya kesenjangan capaian belajar antara siswa dari kelompok sosial ekonomi rendah dan tinggi pada jenjang pendidikan anak usia dini. Perbedaan ini paling terlihat pada kemampuan literasi dan perkembangan motorik.
Pada jenjang sekolah dasar, variasi capaian belajar tidak sepenuhnya dijelaskan oleh faktor sosial ekonomi, tetapi lebih dipengaruhi oleh konteks wilayah, kualitas kepemimpinan sekolah, serta praktik pengajaran di kelas. Numerasi menjadi salah satu keterampilan yang paling rendah capaiannya, dengan kesenjangan yang cukup signifikan antara siswa berdasarkan gender dan siswa yang mengalami kesulitan belajar.
Studi juga menemukan bahwa adaptasi kurikulum nasional terhadap konteks lokal masih terbatas. Banyak sekolah di daerah yang masih kesulitan menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan siswa dan karakteristik wilayahnya. Guru dan kepala sekolah mengaku belum memiliki panduan yang jelas mengenai bagaimana melakukan adaptasi kurikulum secara kontekstual.
Selain itu, pendidikan perubahan iklim di sekolah masih bersifat terfragmentasi dan belum terintegrasi secara sistematis dalam kurikulum. Di tingkat daerah, implementasi kebijakan terkait perubahan iklim lebih banyak berfokus pada mitigasi bencana, sementara sistem pemantauan atau evaluasi terkait ketahanan iklim di sektor pendidikan masih sangat terbatas.
Praktik Pengajaran Belum Sepenuhnya Inklusif
Dalam praktik pembelajaran di kelas, sebagian besar guru melaporkan telah mencoba menerapkan pembelajaran terdiferensiasi. Namun, kepala sekolah menilai bahwa guru masih membutuhkan penguatan kapasitas untuk benar-benar mampu menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa yang beragam.
Guru juga menghadapi berbagai tantangan dalam proses pembelajaran, antara lain beban administrasi yang tinggi serta keragaman kemampuan siswa dalam satu kelas. Hal ini membuat upaya penerapan strategi pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan siswa belum berjalan optimal.
Dari perspektif inklusi, studi menemukan bahwa materi ajar yang digunakan guru masih minim representasi gender dan disabilitas. Dalam praktiknya, sebagian guru juga masih memiliki persepsi atau stigma yang berbeda terhadap siswa berdasarkan gender.
Penggunaan bahasa ibu dalam pembelajaran juga masih bersifat insidental dan belum direncanakan secara sistematis. Padahal, penggunaan bahasa ibu dapat membantu proses transisi belajar bagi siswa pada kelas awal.
Dalam konteks pendidikan inklusif, sebagian besar guru yang mengajar siswa dengan disabilitas melaporkan belum memiliki dukungan yang memadai untuk memfasilitasi kebutuhan belajar mereka. Universal Design for Learning (UDL) belum diformalkan sebagai pendekatan sistemik dalam pembelajaran, sehingga identifikasi kebutuhan belajar siswa sering kali bergantung pada inisiatif guru secara individual.
Selain itu, banyak sekolah belum memiliki guru pendamping khusus. Guru yang mendampingi siswa dengan kebutuhan khusus umumnya tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus, sehingga membutuhkan dukungan pelatihan dan sistem pendampingan yang lebih kuat.

Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Pemanfaatan Data
Studi ini juga menyoroti pentingnya kepemimpinan instruksional kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Secara umum, kepala sekolah telah berupaya menjalankan fungsi kepemimpinan instruksional, namun implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan.
Beberapa kepala sekolah telah menyusun visi dan misi yang menyesuaikan konteks lokal serta berupaya mendukung pengembangan kompetensi guru. Namun, implementasi kebijakan sekolah sering kali masih bersifat administratif dan belum sepenuhnya mendorong praktik pembelajaran yang inklusif dan inovatif.
Dalam perencanaan program sekolah, banyak kepala sekolah telah memanfaatkan Rapor Pendidikan sebagai sumber data. Meski demikian, analisis data yang digunakan masih terbatas pada pemetaan capaian dasar dan belum banyak digunakan untuk memahami kesenjangan pembelajaran secara lebih mendalam.
Keterbatasan literasi data, keterbatasan anggaran untuk menindaklanjuti temuan, serta minimnya dukungan analisis data dari pihak eksternal menjadi beberapa kendala dalam pemanfaatan data untuk perencanaan berbasis bukti.
Studi ini juga mencatat adanya representasi perempuan dalam kepemimpinan sekolah, namun mereka masih menghadapi tantangan struktural, sosial, dan budaya, termasuk beban ganda antara peran domestik dan profesional.
Perlindungan Anak dan Tantangan Sistemik
Aspek perlindungan anak menjadi salah satu fokus penting dalam studi ini. Meskipun sebagian sekolah telah memiliki kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan, implementasinya masih belum merata.
Di banyak sekolah, kebijakan perlindungan anak masih bersifat administratif dan belum sepenuhnya diterapkan dalam praktik sehari-hari. Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) yang telah dibentuk juga belum berjalan secara efektif.
Guru umumnya telah menolak penggunaan kekerasan fisik dalam proses pembelajaran. Namun, dalam praktiknya masih terdapat pendekatan disiplin yang bersifat administratif atau hukuman, dan belum sepenuhnya mengadopsi pendekatan disiplin positif.
Anak-anak juga menghadapi berbagai kerentanan dalam lingkungan sekolah, mulai dari faktor ekonomi, kurangnya akses pelaporan yang inklusif, hingga minimnya koordinasi lintas sektor dalam penanganan kasus kekerasan.
Selain itu, isu perubahan iklim belum sepenuhnya dipandang sebagai bagian dari sistem perlindungan anak di satuan pendidikan. Banyak sekolah belum memiliki prosedur atau kesiapsiagaan yang memadai dalam menghadapi potensi bencana.
Tanggapan Pemangku Kepentingan
Dalam sesi diskusi, berbagai pemangku kepentingan memberikan tanggapan dan refleksi terhadap temuan studi.
Perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah dan pengawas sekolah agar implementasi kurikulum dapat berjalan lebih efektif. Mereka juga menyoroti pentingnya asesmen awal literasi dan numerasi untuk memetakan kemampuan siswa sejak dini sehingga intervensi pembelajaran dapat dilakukan secara lebih tepat.
Perwakilan Kementerian Agama menyampaikan bahwa madrasah pada dasarnya mengikuti kurikulum nasional yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan. Perbedaannya terletak pada mata pelajaran berbasis agama. Di sisi lain, Kementerian Agama juga telah mengembangkan konsep ekoteologi yang mengintegrasikan isu lingkungan dalam pendekatan pendidikan berbasis agama.
Perwakilan pemerintah daerah dari Kabupaten Kayong Utara menyoroti masih terbatasnya pemahaman guru terhadap alasan perubahan kurikulum. Banyak guru memandang kurikulum hanya sebagai kebijakan baru, bukan sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.
Mitra pembangunan seperti INOVASI dan Tanoto Foundation juga memberikan masukan terhadap analisis studi. Mereka menilai bahwa analisis hasil belajar perlu dilakukan lebih mendalam untuk melihat distribusi kemampuan siswa secara lebih detail, termasuk perbedaan antara siswa yang memiliki keterampilan dasar dan siswa yang telah mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Selain itu, penting untuk melihat keterkaitan antara praktik pengajaran guru dengan hasil belajar siswa, termasuk bagaimana asesmen formatif digunakan dalam pembelajaran.
Beberapa mitra juga menyoroti pentingnya penguatan kepemimpinan sekolah berbasis data serta keterlibatan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) dalam mendukung pengembangan kapasitas guru dan kepala sekolah.

Arah Tindak Lanjut
Melalui diseminasi ini, Program KREASI berharap dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, mitra pembangunan, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dasar di Indonesia.
Temuan studi awal ini menjadi dasar untuk merumuskan strategi intervensi program, termasuk penguatan kapasitas guru dalam pembelajaran terdiferensiasi, integrasi prinsip kesetaraan gender dan inklusi sosial, peningkatan kepemimpinan instruksional kepala sekolah, serta penguatan sistem perlindungan anak di satuan pendidikan.
Selain itu, studi ini juga membuka ruang untuk penelitian lanjutan yang lebih mendalam, termasuk evaluasi dampak kepemimpinan sekolah terhadap kualitas pembelajaran, analisis integrasi prinsip GEDSI dalam sistem pendidikan, serta penguatan sistem perlindungan anak yang lebih terpadu.
Melalui pendekatan berbasis bukti dan kolaborasi lintas sektor, Program KREASI diharapkan dapat berkontribusi pada upaya peningkatan kualitas pendidikan dasar yang lebih inklusif, responsif terhadap konteks lokal, serta mampu menjawab tantangan masa depan.
_____
Sila akses laporan lengkapnya di sini: https://indonesia-kreasi.or.id/publication/laporan-studi-awal-program-kreasi/