Salah satu PAUD dampingan KREASI Morotai kini menunjukkan perubahan dalam praktik perlindungan anak. Syahwiah, kepala sekolah PAUD, menceritakan bahwa sebelumnya pemahaman dirinya dan para guru tentang perlindungan anak serta manajemen kasus masih terbatas, sehingga penerapannya belum maksimal. Setelah mengikuti pelatihan manajemen kasus KREASI, mereka mulai mempelajari langkah yang dapat diterapkan di sekolah. Syahwiah kemudian menindaklanjuti pelatihan tersebut dengan membentuk TPPK, menyusun SOP perlindungan anak, memperbarui tata tertib berbasis hak anak, dan mensosialisasikannya kepada seluruh guru dan orang tua. Kini, semua guru memahami peran masing-masing, sehingga perlindungan anak tidak lagi menjadi tanggung jawab hanya satu atau dua orang saja.
Langkah ini diperluas hingga tingkat desa. Sekolah membangun forum rutin bersama pemerintah desa dan komite sekolah untuk membahas kesehatan, perlindungan anak, dan keamanan lingkungan belajar. Keterlibatan desa memastikan dukungan bagi kebutuhan sekolah, termasuk isu keamanan fisik dan mitigasi risiko bencana sesuai kondisi perubahan iklim di Morotai. Di tingkat kabupaten, sekolah terhubung dengan Satgas TPPK dan mengikuti supervisi manajemen kasus, sehingga jalur rujukan untuk kasus yang lebih serius jelas dan terstruktur.
Di sekolah, TPPK berperan sebagai garda terdepan. Mereka menyusun program kerja sesuai kebutuhan, mulai dari penguatan pemahaman guru tentang kekerasan, pencegahan perundungan, hingga mekanisme konseling sederhana. Respons awal terhadap kasus dilakukan secara edukatif dan non-punitive, membantu anak memahami dampak perilaku, memulihkan hubungan antarsesama, dan mendampingi proses mediasi. Jika kasus memerlukan penanganan lebih kompleks, TPPK segera berkoordinasi dengan Satgas TPPK atau layanan terkait di kabupaten untuk memastikan anak dan keluarga mendapatkan bantuan yang tepat.
Selain membangun sistem perlindungan, sekolah juga mendorong penerapan positif disiplin di kelas. Anak-anak dibimbing dengan bahasa yang menenangkan dan mengarahkan, bukan memarahi atau mengancam. Kelas ditata agar aman dan menarik, dengan sudut baca, area eksplorasi, ruang refleksi, serta kegiatan yang konsisten sehingga anak merasa aman secara emosional. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi kekerasan, tetapi juga mendukung kesejahteraan anak, meningkatkan kepercayaan diri, dan membuat anak lebih nyaman dalam belajar.
“Setiap anak itu istimewa, dan mereka tumbuh sesuai usianya masing-masing. Sebagai guru, orang tua, dan pemimpin sekolah, kami memegang amanah untuk memastikan hak dan keselamatan anak terpenuhi. Kolaborasi aktif antar semua pihak bukan hanya penting, tetapi wajib. Dengan bekerja bersama, kita memastikan anak-anak tidak hanya tumbuh, tetapi juga terlindungi, dihargai, dan diberdayakan,” kata Syahwiah.
Meski KREASI Morotai telah memberikan dukungan signifikan melalui penguatan kapasitas guru, pendampingan teknis, dan pembenahan sistem, beberapa tantangan masih ada. Koordinasi lintas sektor belum selalu konsisten, praktik positif disiplin belum sepenuhnya berkelanjutan, dan risiko lingkungan serta infrastruktur sekolah terkait perubahan iklim masih membutuhkan perhatian. Kepala sekolah menegaskan bahwa perlindungan anak bukan tanggung jawab satu pihak saja.
_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI dijalankan oleh Save the Children bersama Stimulant Institute dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai. KREASI bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Pulau Morotai dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____
Penulis: Ayutama Putri Jordy | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Ayutama Putri Jordy/KREASI/Stimulant Institute/Save the Children