Skip to content Skip to footer

Inovasi Rahmi Noviyanti, Guru Madrasah di Ketapang yang Mengajar Menggunakan Diorama

Suasana kelas 3 salah satu madrasah ibtidaiyah negeri di Ketapang tampak berbeda dari biasanya. Di bawah bimbingan Rahmi Noviyanti, para siswa tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan, tetapi aktif menciptakan dunia mereka sendiri melalui proyek diorama ekosistem.

Pembelajaran diawali dengan sesi pengamatan informasi melalui tayangan PowerPoint dan video tentang ekosistem. Namun, pembelajaran tidak berhenti pada teori. Informasi yang mereka dapatkan langsung diolah menjadi sebuah karya nyata. Dengan menggunakan bahan sederhana seperti kardus, lem, dan gambar, siswa menyusun konsep abstrak dari layar menjadi bentuk fisik yang bisa mereka sentuh dan rancang sendiri.

Mengasah Logika Lewat Komponen Biotik dan Abiotik

Di tahap ini, kemampuan bernalar siswa diuji secara mendalam. Mereka tidak sekadar menempel gambar, tetapi harus berpikir logis dalam memilah dan mengelompokkan elemen. Siswa belajar menghitung dan menyeimbangkan jumlah komponen biotik (makhluk hidup) dan abiotik (benda tak hidup). Mereka harus memastikan bahwa setiap hewan yang mereka pilih memiliki lingkungan pendukung yang sesuai, sehingga logika pengelompokan dan klasifikasi terbentuk secara alami melalui aksi nyata.

Memupuk Keberanian Berbicara di Usia Dini

Setelah karya selesai, setiap kelompok diberikan panggung untuk menunjukkan hasil kerja keras mereka. Sesi ini menjadi momen emosional yang membanggakan, di mana anak-anak kelas 3 SD ini belajar menaklukkan rasa gugup dan tampil percaya diri di depan umum. Sambil memegang diorama, mereka secara bergantian menjelaskan hubungan antara komponen biotik dan abiotik dengan kalimat yang runtut. Keberanian mereka dalam menjawab pertanyaan dan berdiskusi dengan teman sejawat membuktikan bahwa keterampilan berkomunikasi dapat tumbuh pesat ketika siswa merasa bangga atas apa yang mereka ciptakan.

Ruang Tumbuh Bagi Generasi Cerdas

Melalui praktik baik ini, Rahmi Noviyanti berhasil menciptakan ruang kelas yang bukan sekadar tempat menghafal, melainkan ruang tumbuh bagi generasi cerdas. Siswa belajar bahwa sains adalah tentang memahami kehidupan, dan keberanian adalah kunci untuk membagikan ilmu tersebut. Inovasi ini menjadi pondasi karakter dan kecakapan bernalar yang akan mereka bawa hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

_____
Program KREASI atau Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia didanai oleh Global Partnership for Education, dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Kementerian Agama. KREASI di Ketapang dijalankan oleh Save the Children dan mitra pelaksana lokal Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah didukung Pemerintah Kabupaten Ketapang, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan memperkuat pengajaran, pembelajaran, dan pengembangan siswa.
_____
Penulis: Afriyandi Nur Huda | Editor: Andika Ramadhan | Foto: Afriyandi Nur Huda/KREASI/Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah/Save the Children